Wednesday, November 29, 2006
posted by catur catriks at 11:22 AM | Permalink
sekeping hati
tidak diketahui mengapa di matanya selalu muncul bayangan
gambar kebeningan yang membeningkan buram penglihatannya
sebuah kesadaran, ia sering menggambar kebeningan itu
di waktu-waktu berakhirnya hari
di penggal-penggal sepi
dan sebelum terlelap, ia menyimpan gambar itu di dada,
kepala, atau bersama hembusan nafasnya yang lelah
sementara dalam ketenangan mimpi lelaki paham, kebeningan
yang senantiasa ia dekap
entah akan menjadi milik siapa, nanti
mungkin saja ia tak akan pernah dapat memilikinya

di sebuah lekuk, lelaki mengandaikan adanya sapuan
halus ombak. Beralun-alun agar mimpinya tak
tersedak ketika jalan masih malam
buih kadang mengganggu walau putih tapi keruh
ia hanya mencinta kebeningan
bening muka dengan mata memantul cahaya
seperti jernih air yang terlihat hingga dasar

peliharalah mimpi itu, lelaki
agar agung bahagiamu bila kebeningan itu kau miliki
agar curam dukamu manakala kebeningan melenggang lalu
dengan atau tidak bersama buih yang mengalun
peliharalah, lelaki
segala mungkin yang terjadi
jangan sesali nanti karena mimpi hari ini
 
Monday, November 27, 2006
posted by catur catriks at 4:06 PM | Permalink
kaget juga
setelah lebih dari sepekan blogku gak bisa dibuka, aku mengira klo halamanku hilang
tp hari ini muncul lagi. Alhamdulillah, terbuka kembali untuk mencurahkan, apa saja
hanya saja ada beberapa banner dan aksesoris yg lain yg hilang, hehehe, padahal hy seberapa
padahal juga aku dah minta bantuan kepada seseorang untuk membantu
kmrin setelah aku kutak-katik dgn ke-gatek-kanku, e..ternyata hari ini jdi juga
tp ok-lah, senang itu pasti, aku nge-blog lageeee ....
 
Saturday, November 18, 2006
posted by catur catriks at 11:21 AM | Permalink
afwan
bisa membantu orang lain memang menyenangkan
walau kadang rasa capek setelahnya begitu besar menyerang
seperti kmrin saat ramadhan menjelang lebaran
harus kugotong dgn temen2 berkarung2 sembako pada saat malam
setelah beberapa hari terlibat dalam pencarian dana
dan pagi2 sekali barang2 itu harus dibagi dalam paket2
sebelum para dhuafa datang mengantri
tapi pada permintaan kemarin aku tak menyanggupi ketika seorang ust. meng-sms:

Akh, antum usahakn datang ke DPP di Mampang, temui Akh Murdoko terkait kaum buruh, hari ini! Jzklh.

afwan, Ustad.

kembali, terkadang kita tidak menyanggupi urusan yang hanya terlihat susah, padahal kita belum tahu, apakah terlihat susah itu.

tapi mari, bila boleh mengajak, kita mulai berpikir untuk berjuang atau setidaknya membantu kesulitan orang.
bila bukan urusan yang besar, mulailah dengan urusan2 kecil.
jangan sampai kita senang apabila ada orang yang susah, walau ia pernah menyakiti kita. Jangan pernah pula kita mengharapkan balasan, karena seribu orang yang kita tolong, mungkin hanya ada satu yang akan mengingat kebaikan kita. Menolong karena Tuhan, Tuhanlah yang akan menolong kita. Semoga
jadikan diri kita sebagai orang yang pandai berbagi dengan berempati kepada sesama, semoga.

 
posted by catur catriks at 11:04 AM | Permalink
apanya yang mewah?
mungkin tidak perlu menilai aku seperti itu
baik, akan aku katakan padamu
kalain n temen2ku yg lain memakai komputer desktop terbaru
yang harganya mungkin berkisar 4 jt-an
sedang aku cukup memakai komputer second
pentium dua seharga 900 ribuan
di kamar2 temenku ada tv flat, buatan jepang
sedang kamarku cukup dengan tv cembung buatan semarang
dengan harga di bawah 600 ribuan
kalian memakai sandal yang bermerek di mall dgn harga seratusan
aku cukup memakai sandal yang kubeli di pinggir jalan UKI
seharga 15 ribuan, hehehe, tapi awet juga sampai sekarang
tak perlu kukatakan semua
ini membuatku jadi nelangsa
aku hanya ingin sederhana
atau, ya, itu kemampuanku saja
aku suka yang biasa2
tapi walaupun begitu
ada satu keingiananku yang sangat luar biasa
dan itu lebih bermakna dari pada itu semua
dan untuk itu, kau boleh bilang aku mewah!
tapi nanti, ya, sedang kurumuskan
insya Alloh tahun depan
 
Monday, November 13, 2006
posted by catur catriks at 11:13 AM | Permalink
Kategori Manusia
Berikut ini adalah tulisan karya AA Gym yang ia kutip dari ide Emha Ainun Nadjib, dan saya mengutip ulang dengan beberapa penambahan. Semoga bermanfaat.

Pada dasarnya, terima atau tidak terima, manusia dibagi dalam kategori: manusia wajib, manusia sunnah, mubah, makruh, dan manusia haram.

Manusia wajib ditandai dengan keberadaannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, bahkan perilakunya membuat orang di sekitarnya tercuri. Dia tidak pernah mengganggu orang lain, sehinggga orang lain merasa aman darinya. Ucapannya senantiasa terpelihara, tidak bicara hal yang sia-sia, banyak berbuat daripada berbicara.

Manusia wajib sedikit kesalahannya. Ia tidak suka mencampuri hal-hal yang bukan urusannya. Ia sangat menikmati ketika memberikan kebaikan bagi orang lain. Hari2nya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyantun, pandai mengendalikan diri, lembut serta penuh kasih sayang.

Seorang yang berakhlak baik, tidak biasa melaknat, menggunjing, bersikap tergesa2, dengki, bakhil. Ia justru selalu berwajah cerah, ramah, mencintai dan memberi karena Alloh. Bahkan marahnya pun Karena Alloh.

Oleh karena itu, siapa pun yang berada di dekatnya pasti akan tercuri hatinya. Kata-katanya selalu terngiang. Keramahannya pun menjadi penyejuk bagi mereka yg membara. Kehadirannya penuh manfaat. Jika ia tidak ada, maka siapa pun akan merasa kehilangan; akan ada terasa sesuatu yang kosong di rongga kalbu. Begitu indah hidupnya.

Manusia sunnah, ditunjukkan dengan kehadirannya memberikan manfaat, namun ketidakhadirannya tidak membuat kita kehilangan. Tidak ada rongga yang kosong akibat ketiadaan dia. Ini terjadi mungkin karena ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yg paling dalam.

Manusia mubah, ditandai dengan ada atau tidak adanya dia tidak akan berpengaruh apa-apa. kerja di kantor atau membolos, sama saja, tidak membawa manfaat tetapi juga tidak membawa mudharat.

Manusia makruh, keberadaannya akan membawa mudharat dan ketiadaannya tidak memberi pengaruh apa pun. Maksudnya, kalau dia datang ke suatu tempat maka orang akan merasa bosan atau tidak senang. Orang yang keberadaannya mendatangkan masalah. Seperti ketika anak2 sedang asyik bermain, klakson mobil ayah datang, anak2 malah pergi ke kamar bersembunyi, pembantu takut kena marah, dsb.

Maka kepergian orang tersebut memberikan kenyamanan bagi orang2 di sekitarnya.

Adapun orang yang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap sebagai musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Di saat ia berangkat kerja, banyak perlengkapan kantor yang hilang. Maka ketika ia dipecat, semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.

Masya Alloh, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya malah menjadi benalu saja? Apakah masyarakat atau orang2 di sekitar kita mendapat manfaat atas kehadiran kita?

Jangan sampai kehadiran kita tidak diharapkan, atau malah ketiadaan kita disyukuri oleh banyak orang.

Nah, masuk ke dalam manusia apakah kita saat ini?

Marilah maksimalkan nilai manfaat pada diri kita.

Berlari untuk menjadikan diri sebagai khairunnas.

 
Saturday, November 11, 2006
posted by catur catriks at 5:27 PM | Permalink
hhh
bosan, setelah mencoba beberapa hal
tapi ternyata tetap gagal
mending ndengkur deh di rumah
 
Thursday, November 09, 2006
posted by catur catriks at 1:54 PM | Permalink
diburu asu

nalika samana, maksude, wektu kae, aku arep metu meng umahe mbah Dahlan. Niate njaluk asem pelem mbah Dahlan sing wis mateng-mateng. Mengini banget. La ketimbang nyolong wengi2 kaya sing dilakoni Misman karo Kasum, malah miturutku ora apik babar blas. Ehm ? sebenere aku ya ora bakat dadi maling.

Satekane ngarep umah, takgedor lawange mbah Dahlan. Let ora suwe wonge metu, isih gubedan sarung karo ngucek-ngucek mripate. Ketone mbahe agi beleken.

-mbah, njaluk asem peleme loro, ya mbah? Omongku njaluk

-kepriwe? Kupinge mbahe elek tenan

-asem pelem loro! Suwaraku takserokna karo tangane nunjuk-nunjuk wit asem.

-Oo ..bocah ra sopan! Wis nyolong wingi bengi, siki malah njaluk. Takkeplak sisan ngko! Mbah Dahlan nesu

-Ora mbah, udu aku sing nyolong!

-Goroh! Jere Kasum karo Misman, kowe sing nyolong. Dasar maling! Wis bali! bali! Omonge mbah Dahlan karo mendelik, mecucu.















Aku bali karo gela banget, njaluk pelem ra diwei malah difitnah nyolong. -ya, daripada di fitnah, mending takcolong tenan mengko sore- pikire aku nang ati.

Sewise aku metu sekang pager umahe, aku nggligut meng mburi. Nah, wonge wis mlebu maning meng njero umah. Selak ora sabar nunggu sore, langnsung baen aku mbalik lan menek wit asem pelem kae kanti cepet2, wedi kewenangan.

Takpethil segantang sing isine telu, terus mruput mudun. Lah, pas sikil tengenku ngidak lemah,, dumakan ana asu metu sekang iringan umahe mbah Dahlan karo ngalup-alup seru banget. Mbok njenggirat, atiku trataban tenan. Asu kuwi mburu aku banter banget. Dasare asu tenan asu kae! Aku mlayu secepete aja nganti sikilku dibrakot, bisa rabiesen ngko.

Mergane asu mau nggonggong2, mbah Dahlan krungu, metu sekang njero umah lan weruh aku sing agi diburu asu ingon-ingone. Ngerti tangane aku nyekel asem pelem, langsung baen mbah Dahlan mbengok-mbengok, -Dasar bocah maling! Nyolong wengi kurang wareg, siki nyolong maning! Cluthak!- bengok2e mbah Dahlan saingan karo suwarane asune sing isih nggonggong.

Ra urusan, aku mlayu karo nggondol pelem.

Bojoku sing lagi ngidam wis ngenteni nang umah ra sabar, sajake.

(hehe, sekedar mengingat bahasa ibu. Bila tercampur antara bhs banyumasan dgn bhs semarangan, adalh hal lumrah. 4,6 thn pernah di semarang. -semarang kaline banjir, beras larang ra dipikir ----)

 
Tuesday, November 07, 2006
posted by catur catriks at 8:18 AM | Permalink
Sembunyi Kucing

Kulihat bayangmu me-lalu

Dan kemudian jejak wangi yang tertinggal mengatakan

kau memerhatikan dalam lama waktu

karena aromamu telah melekat sampai dinding

kita seperti beradu kekuatan untuk saling menahan

sembunyi dan mengejar

mengejar dan sembunyi

padahal kita tersinggung bila dikatakan anak kecil

dan kita memilih berjalan dengan jaket yang lusuh

satu melengos bila melihat yang lain

karena ada debu

tapi bukankah satu ingin membersihkan yang lain?

teka-teki yang kita ciptakan menjerat otak

dan mengkramkannya

perlukah kupecah sebuah gelas pada kepala atau

kuambil isi kepala dan kutaruh pada gelas

agar bisa melihat yang aku ingin?

hhh, melankolisme buih

nyatanya tidak ada apa-apa

kisah pencurian pandang sering terjadi dalam

keramaian siang

tak apa-apa karena hanya menimbulkan gondok

di benak pelakunya

seperti kau yang kudengar degupnya

sepertiku yang terlihat merah muka

tapi

dengar, mari jangan bermain-main dengan hati

aku ingin mengakhiri ini

atau, lebih baik segera kita menyatukan tangan

hhh, senyummu menyiratkan

kau menunggu keberanianku berkeputusan

 
posted by catur catriks at 8:16 AM | Permalink
janji

Setiap pagi kubangun, teringat malamnya di mana sering aku menjanjikan pada diri ini untuk memulai hari yang lebih baik esoknya.

Janji untuk mengingat keluarga yang jauh, saudara2 yang terpencar.

Janji untuk tidak menyiakan waktu. Janji bisa hangat bertemu dengan siapa pun.

Janji untuk merangkai masa depan yang aku bayangkan indah, termasuk janji untuk bisa menemukan pasangan yang telah kuhitung.

Selalu saja kutemui hari yang sama.

Di kantor, bertemu dengan tumpukan naskah buku untuk aku edit, untuk dipresentasikan ke atasan. Teman2 yang berlari dengan pekerjaannya, sekat-sekat particy, dan tabung2 komputer.

Di rumah, bila bangun dan bergegas menyiapkan diri, kulalui ruang yang pengap dan variasi suasana yang beku.

Berangkat ke kantor, hanyalah ada pemandangan tembok dan atap2 rumah penduduk.

Dan sama saat pulang.

Saat malam untuk beristirahat, kubayangkan lagi sebuah janji yang telah kulontarkan pada malam sebelumnya.

Banyak yang menemui ruang kosong. Banyak yang menguap. Janji untuk menghubungi keluarga terlupa-lupa, janji untuk segalanya, beberapa tak memuaskan.

Ya, tempat untuk kembali adalah kontrakan dan kasur pembaringan di mana di sana akan terpikir ulang segalanya. Membosankan.

Tapi memang harus aku jalani, karena inilah sementara kemampuanku dan kesadaran akan ketetapan Tuhan atas kesanggupanku berjuang.

Bila semua yang aku miliki dan laksanakan sekarang adalah titipan dari-Nya, maka apakah aku baik jika berat mengembankannya?

Setiap orang pasti akan menemukan titik jenuh pada suatu saat, betapa pun menariknya kehidupan pada awalnya dan betapa pun bergairahnya dalam perjalanan awal.

Tapi bagaimana dengan janjikku yang selalu terngiang menjelang tidur dan teringat kala paginya?

Mungkin yang perlu aku tingkatkan sekarang adalah berusaha menghilangkan gelisah. Menguatkan kegoyahan kaki yang gampang membelok pada wilayah yang mubah dan percuma.

Mungkin adalah satu suntikan semangat untuk kembali memperbaiki pandangan dan tekad yang telah merapuh.

Kembali pada semangat bertarung, duh sepertinya ini berlebihan, dan memenuhi satu rindu untuk mendapatkan senyumnya hati.

Teringat waktu masih mahasiswa, betapa rencana tersusun begitu hebat, planning sebuah perjuangan yang telah kugagas dengan mantap. Kuikuti seminar-seminar manajemen, kubaca buku-buku tokoh dunia, hingga tampak aku seperti orang gila dengan semangat yang menggunung, tapi semua itu menggelepar setelah aku lulus.

Pun sekarang, berangkat kerja dengan semangat, mendapatkan ide di kantor dan ide itu kemudian terkapar setelah sampai rumah. Jari kaku di atas keyboard.

Kupahami dalam diriku, bahwa aku tak bisa memelihara secara continue. Hatikku begitu gampang terbolak-balik. a dan n, r dan l, enam dan delapan, hanya berkumpul pada susunan acak. Tidak bisa menyusun secara matematis.

Janjiku menguap

Janjiku adalah sebuah hiburan agar aku bisa tidur dengan nyaman

Perpanjangan waktu, penambahan tenaga, sehat, dan sempat tak termanfaatkan maksimal. Aku tak pernah mengenal percepatan.

Bila janji menjadi tiada, apakah aku masih bisa menghibur diri, bahwa hidup tak harus neko-neko?

Bila janji menjadi tiada, apakah aku harus menerima penilaian orang bahwa hidup tak kupahami sebagai medan perjuangan?

Setulus apakah keinginanku untuk mendapatkan titipan dan menjalankannya, meminta dan mencarinya, mensyukuri atau mengurangkannya, membagi atau memiliki sendiri, mungkin akan menjadi sebuah kiblat.

Sementara, berubah, zig zag, atau abadi menjadi tidak penting. Kalau boleh demikian, berair mata adalah bukan sebuah pertahanan dan jalan kelegaan sesaat. Maka aku berkewajiban untuk membuat jawaban.

Bila berlari tidak lebih baik daripada duduk, bila sekarang atau besok bukan sebuah tingkat, bila hitam dan putih bukan sebuah blok, maka aku tak perlu membuat pilihan.

Hanya saja, janjiku akan terus kubangun, dan semogaku bukanlah mantra, melainkan bunga-bunga yang merangkai taman!

 
Monday, November 06, 2006
posted by catur catriks at 8:23 AM | Permalink
Kepenerimaan

Dalam hidup, kita selalu berkeinginan menjadi yang terbaik, dalam hal apapun. Hingga kadang kita tak sadar muncul sebuah kesombongan. Apabila kita bertemu dengan seorang yang mempunyai kelebihan, maka kita akan berpikir, bahwa kita juga mempunyai kelebihan yang lebih berharga dari pada kelebihan orang tersebut. Dan kita pun merasa lebih tinggi.

Kita lupa, batasan apa saja yang tidak dapat kita lakukan. Kita memang dapat mengubah beberapa hal, tapi kita tidak dapat mengubah semuanya.

Tuhan telah menetapkan kita pada suatu posisi dan peran untuk suatu tujuan. So, do the best apa saja yang dapat kita lakukan. Memang dunia melihat rupa, kelebihan orang, kedudukan, prestasi, dan lain-lain. Tapi Tuhan melihat ke dalam kerendahan hati kita. Kita mempunyai kelebihan bukan untuk disombongkan, kita berambisi untuk meraih prestasi. Prestise yang ikut di belakangnya adalah hal yang tidak perlu dibanggakan dengan menyebut-nyebutnya. Sebagai manusia, memang kesombongan begitu dekat dan begitu berpotensi masuk ke dalam hati. Mari jaga hati kita.

Setiap pergi, kita akan selalu menemukan orang yang lebih hebat, dan ini tak ada habisnya. Maka sebenarnya sangat kerdil kita bila masih memelihara sifat sombong.

Bila kita selalu berpikir kurang atas rezeki, maka pergilah. Di jalan-jalan ada orang yang terbungkuk mengais sampah untuk di jual. Ada orang yang berkaki sebelah mengejar bus kota untuk bisa mengamen. Apabila selalu kurang, sangat tamakkah kita?

Ada kisah mengenai dua orang tua yang anaknya mati di sebuah universitas. Mereka datang berpakaian sederhana dengan maksud untuk membangun sebuah peringatan. Ketika mereka menemui rektor dan mengutarakan niatnya, rektor memandang rendah kepada pasangan suami istri tersebut karena pakaian yang mereka kenakan dan mengatakan: maaf, lahan di universitas ini tidak menerima pembangunan sebuah makam peringatan. Apabila setiap mahasiswa yang masuk di sini meninggal dan diberi tugu peringatan, maka unversitas ini akan seperti kuburan. Ucapan rektor diikuti dengan nada yang mencibir. Padahal suami istri tersebut berniat untuk membangun sebuah gedung kuliah di universitas tersebut.

Si suami menanyakan berapa harga seluruh aset di universitas tersebut. Si rektor menjawab dengan harapan kedua orang di hadapanya terkaget dan segera pulang. Rektor menyebutkan sekian dollar.

Mendengar ini, sang istri menatap ke suami dan berkata: kalau cuma segitu, berarti kita bisa membangun universitas sendiri.

Sang rektor nampak kebingungan. Pada akhirnya ia tahu, universitas Stanford berdiri, dan kedua orang yang pernah menemuinyalah yang membangunya.

Anda bisa dengan gampang menilai karakter orang lain
dengan melihat bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang
mereka pikir tidak dapat berbuat apa-apa untuk mereka. --by Malcolm
Forbes.

Kisah yang memalukan karena sifat sombong dan memandang orang lain rendah lewat penampilan semata. Ini bukan berarti kita bisa berpenampilan seenaknya, tidak. Dan kita juga tidak dilarang untuk menilai orang pada pandangan pertama, apa yang kita lihat, tidak. Tapi hikmah yang bisa diambil mungkin, kita harus pandai untuk menempatkan diri dan orang lain pada sebaik-baik tempat, tanpa prasangka, tanpa menjustifikasi secara sembarang.

Ambisi menjadi yang terbaik akan timbul efek ikutannya, yaitu ingin mendapatkan yang terbaik, di antaranya adalah ingin mendapatkan pasangan yang sempurna. Pasangan apa saja.

Banyak orang yang malu ketika berjalan di keramaian dengan orang yang hitam dan pesek. Duduk bersama orang yang kurus dan pendek sementara di depan mereka berkeliaran orang2 yang bugar dan tampak elegan. Banyak orang yang bangga ketika berjalan dengan teman yang tinggi, putih, dan cakep. Dan berperilaku seolah-olah dia orang penting. Ini sering terjadi dan walau boleh, tentu ini tak sepenuhnya benar. Rendah diri dan atau bangga karena orang lain.

Jika teman kita pesek, terima saja dan banggalah berjalan dengannya.

Jika teman kita hitam, terima saja dan jangan menghindarinya jika ia meminta kita duduk di tengah keramaian.

Terimalah apa adanya sebagaimana Tuhan menciptakan.

Mari ubah cara berpikir kita. Lakukan apa yang terbaik bisa kita lakukan. Karena apa yang kita lakukan setiap hari jauh lebih penting dari pada kita memikirkan untuk menjadi pribadi dan mencari pasangan yang perfect. Dan sangat merugi apabila kita memelihara sifat sombong karena ia akan menjadi penjara di dalam hati.

Kesederhanaan adalah kekayaan, kerendahatian adalah kehormatan, dan kehangatan dalam memperlakukan orang lain adalah hal yang sulit dilakukan. Kita akan tahu setelah kita mencobanya.

(Senang dapat menuliskan ini, ajakan untuk diri sendiri dan orang yang bersedia membacanya, semoga bermanfaat.)

 
posted by catur catriks at 8:22 AM | Permalink
Hanya sedikit di antara yg banyak

(Kutuliskan ini, sebagai kesan setelah kurang lebih satu minggu, berlebaran bersama keluarga Mbakku.)

Wanita hidup untuk berbahagia dengan cinta,
sementara lelaki mencintai untuk hidup berbahagia. Begitukah?

Sepertinya tidak cukup itu, ada banyak laki-laki maupun perempuan yang mengenal tengah-tengahnya, di antara cinta dan bahagia. Kompleksitas senantiasa dihadapi. Tapi alangkah suksesnya apabila kesemua-semuanya berlabuh pada tujuan satu, bahagia.

Keluarga mbakku mungkin tidak sebahagia yang dapat aku lihat dari luar. Hanya saja harus aku sadari, apa pun yang terjadi akan selalu terpancar ke luar, apalagi bila itu berasal dari hati.

Rasanya baru kemarin dia menikah, sekarang sudah berputra dua. Imad Akil Mafaza yang pertama. Kau kah keponakanku yang pertama? Bila iya, tolong jangan panggil aku kakek. Keriput di pipi dan kaca mata yg kusandang menipu. Jangan juga jadi anak nakal. Kamu pernah menulis mata adikmu yang ketika itu masih bayi dengan pena hingga matanya berdarah-darah. Untung tidak apa. Jadilah power rangers yang baik hati.

Kau beradik, tapi maaf, aku hanya ingat nama panggilannya, Zaid. Hei, murah sekali senyumnya, baru berusia dua tahun, tapi kau sudah begitu banyak beramal, walau hanya sekedar senyum. Hanya karena saking banyaknya tersungging, kadang om mu ini bingung, senyummu tulus apa senyum menahan pipis di kantung pampersmu.

Ok, om mu tak sering melihat kalian. Pertama kali Mafaza lahir, aku hanya menungguimu di pekanbaru selama satu bulan. Sedangkan Zaid, bisa kulihat setelah kau berusia dua tahun. Aku ingin kalian tahu, keponakan bagiku laksana anak sendiri. Tentu setelah kalian pulang lagi ke sana, ada sesekali rindu yang terasa berat. Tapi tenanglah, kalian bersama umi dan abi yang insyaAlloh bisa mengemban amanah, membesarkan kalian, menganakshalehkan kalian. Berbahagialah dilahirkan oleh dia.

Well, sekarang kalian minggir dulu. Aku akan membicarakan umi dan sedikit abi kalian.

Aku akan memanggilmu Umi, kakakku, seperti halnya Mafaza dan Zaid memanggilmu. Karena engkaulah anak pertama yang akan menjadi ibu pengganti apabila mama kita meninggal kelak. Semoga beliau panjang umur dengan memanjangkan ibadah. Amin.

Umi, pernahkah kau mengeluh? Suamimu yang berkewajiban memberi nafkah bagi keluarga tidak juga bekerja?

Pernahkah kau mengeluh mengenai beban menanggung dua anak sekaligus suami dalam hal ekonomi?

Umi, banyak kasus, perceraian terjadi ketika gaji istri lebih tinggi daripada gaji suami. Tak sedikit istri minta cerai manakala suami tak lagi sanggup memberi nafkah. Kalaupun tidak, si istri akan besar kepala dan bertingkah laksana pemimpin dalam keluarga. Apakah itu tak terpikir? Apa yang kau inginkan?

Aku punya anggapan, bahwa seorang wanita dalam hidupnya hanya menginginkan untuk menikah. Setelah bersuami, wanita menginginkan segala-galanya. Seperti halnya, sewaktu wanita dan pria membina hubungan. Pria banyak bicara dan wanita mendengarkan. Setelah menikah, wanita terlampau banyak bicara dan banyak tetangga yang mendengar.

Pernahkah Umi seperti itu?

Hmm, pertanyaan retorik. Karena aku tahu jawabannya.

Umi tetap mempertahankan keluarga seperti tak terjadi apa-apa. Umi tetap memuliakan suami seperti halnya yang pernah engkau janjikan dulu dalam peristiwa penyatuan. Engkau tetap mendudukkan suami sebagai nahkoda keluarga.

Aku tidak ingin memujimu lebih banyak. Ini akan membosankan. Aku hanya ingin menegaskan bahwa dalam diri ini, telah tercatat sebuah penilaian, bahwa kau sangat dekat, begitu erat dengan sebutan istri salehah. Tentu dengan atribut tingkah laku, sikap, perkataan yang sering membuatku haru. Aku ingat waktu pertama kali kau sampai di kampung. Aku mendengar kau mengucapkan ayat-ayat Al quran, di tengah rasa capek, di saat salah satu anakmu berada dalam gendongan. Aku juga teringat, ini pernah aku tulis di postingan sebelumnya, waktu itu aku mengantarmu, bertahun-tahun yang lalu, pergi merantau ke Sumatra. Bibirmu tak henti-henti melafalkan Bismillah. Dulu aku memahami bahwa Umi berlebihan. Tapi ternyata tidak. Kau menginginkan agar kepalamu senantiasa ingat dengan bibirmu yang mengucap. Menghatikah?

Ya, kau pernah menangis waktu menyarankan aku untuk berhenti merokok. Bahkan setiap bulan kau membantuku pada saat aku masih kuliah. Ini implementasi.

Kemarin, aku mencoba untuk sedikit menyenangkanmu, memberi uang dengan maksud untuk menambah saku transport pulang, karena tiket pesawat mahal. Kau bilang cukup. Kupaksa dan kau terima, tapi mengapa juga uang itu akhirnya kau berikan ke mama? Aku tahu kau pulang dengan uang yang pas2an, karena suamimu tak bekerja. Tapi, yah, aku jadi semakin tahu, siapa Umi.

Bisakah aku mendapatkan wanita sepertimu, dengan wajah yang sedikit lebih cantik? Hehehe. Umi, apakah kau tahu, adikkmu jauh sekali dari teladanmu.

Wanita adalah bintang dan pelita bagi lelaki.
Tanpa pelita, lelaki bermalam dalam kegelapan.

Bila kau bintang dan pelita bagi suami dan keluarga maka tetaplah dalam posisimu. Dan bila kau bersedia, tolong carikan satu pelita yang lebih terang buatku, ya Umi? Gelap banget di sini (sambil memegang dada, dada punya sendiri tentunya).

Maaf, adikmu mulai kurang ajar.

Aku begitu mengharapkannya. Memperoleh teman yang kucintai yang karena cintanya menambah cintaku pada-Nya. Aku begitu mengharapkan seorang bagai pelita yang karena sinarnya mampu menerangi jalanku untuk mendekat pada-Nya.

Baik, apa lagi yang perlu kututurkan?

Aku ingin berpesan, o maaf, berharap agar Umi benar-benar bisa menjadi istri yang shalehah. Menjadi perhiasan terindah dalam dunia. Tetaplah, jadikanlah suamimu sebagai pemimpin. Muliakanlah ia. Karena ada istilah:

Pudarlah kebahagiaan seorang wanita jika ia tidak mampu
menjadikan suaminya teman yang termulia.
Memuliakan suami berbanding lurus dengan memuliakan diri sendiri.

Semoga dia cepat mendapatkan dan atau bisa menciptakan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya, walau aku tahu, materi bagimu bukan tujuan, walau itu penting. Bagimu yang utama bagaimana menikmati sesuatu yang telah dirizkikan.

Dampingilah dengan setia suami, karena sekarang ia diamanahi untuk menjadi ketua dpc. Oya, suamimu pernah bilang begini dalam candaannya: umat aja dilayani, apalagi pada suami ?

Ya, Umi, salah satu peranmu adalah melayani umat, menjadi murabi yang mengajarkan agama kepada para ihwah, padat dgn kegiatan2 sosial, selain profesimu menjadi kepala sekolah di sd Islam terpadu. Bukan suatu hal yang besar, karena dunia akan memandangnya kurang, tapi yang membesarkan adalah keikhlasan dan keistiqomahanmu, Umi. Hehe, maaf, aku seperti memberi garam pada air laut.

Hemm, lebaran kemarin sebenarnya aku ingin berlama-lama di kampung atau bila bisa ikut pulang bersamamu ke pekanbaru. Aku sudah mulai jenuh hidup sendiri di bogor, walau sudah kucoba untuk memperbanyak repot dan sibuk.

Ada, sepertinya, sesuatu yang kurang.

Pelita-kah itu, Umi?



 
Wednesday, November 01, 2006
posted by catur catriks at 10:32 AM | Permalink
dari dan ke
dari banjarnegara ke bogor
dari senang ke lumayan senang
dari longgar ke sempit
dari lega ke mumet kembali
alaah,
selamat datang pekerjaaNN!!