Monday, January 29, 2007
posted by catur catriks at 8:29 AM | Permalink
Untuk Membantu, Kita Tidak Perlu --

Pus terasa sangat lelah. Anaknya yang baru lima tahun berkali-kali minta naik ke punggungnya. Karena sayang, Pus menggendong buah hatinya berkeliling taman. Beberapa kali putaran, si anak telah menggelosor tidur. Segera Pus memberikan kepada istri, untuk kemudian dibaringkan di kamar mungil anaknya. Mereka berdua tersenyum melihat perut anaknya yang naik turun seiring nafas yang halus.

Di saat Pus masih menyungging senyum, si istri tiba-tiba menciptakan sebuah moment yang sama sekali tidak romantis.

- Pap, sudahkah Papap punya uang untuk membayar sewa rumah yang telah menunggak dua bulan ini? Oya Pap, susu si Miow juga tinggal satu sendok.

Mendengar ini, Pus mendesah. Kumisnya tiba-tiba tanggal satu.

- Hhh, belum Momy. Sabarlah. Mengenai susu si Miow, beri saja sementara air gula.

- Oh Papap, tidak mungkin. Aku tidak ingin anak kita kurus kurang gizi. Kurus seperti penulis cerita ini.

- Jangan menghina Momy. Walau kurus, tapi penulis cerita ini pemuda yang ganteng.

- Ah Papap, Momy harap nanti sore Papap bisa membelikan susu untuk anak kita.

Pus tak pernah memahami kata harap yang dilontarkan istri sebagai sebenar-benar harapan. Harapan yang bisa tercapai dan boleh tidak. Pus selalu memahami, harapan istri adalah sebuah kewajiban dan keharusan. Karena kalau tidak, Pus memang tetap boleh tidur di rumah, tapi hanya cukup boleh di beranda.

Pus melangkah keluar hendak pergi ke tepi telaga. Di sana biasanya gundah bisa sedikit terobati. Adalah seretnya rejeki yang diterima akhir-akhir ini, membuat denyut kebutuhan rumah tangga agak tersedak.

Sampai di tepi, Pus melihat sahabat karibnya, Kiko kelinci si telinga panjang.

- Hai boy! Sapa Kiko. Ia termasuk teman yang ceria, tapi ia juga termasuk teman yang tak bisa membaca ekspresi wajah. Ia selalu mendapatkan nilai telur untuk pelajaran ini waktu sekolah dulu. Telur alias nol. – Ente sepertinya datang membawa rejeki buatku. Aku kira tenagamu lumayan dan kau punya kepandaian memijit. Maukah kau memijitku Pus? Badan ini terasa pegal-pegal setelah kerja seharian.

Untuk mengetahui orang, kita tak perlu memaksa kepada orang lain untuk mengetahui kita.

Untuk meringankan beban orang lain, kita tak perlu mengabarkan kesulitan kita kepada orang tersebut.

Untuk menolong, kita tak perlu menunggu waktu yang luang.

Untuk semuanya, kita tak perlu tahu siapa mereka, tapi jika bisa melakukan atau tidak, maka kita akan tahu, siapa diri kita sebenarnya.

Dan apabila kau menebarkan kebaikan sekalipun seringan angin yang berhembus, maka malaikat akan mencatat tetap sebagai kebaikan yang telah dijanjikan pembalasannya, nanti atau kelak.

 
posted by catur catriks at 8:09 AM | Permalink
Tenang, ini masalah yang sepele
Pernahkah diri terbelenggu kesepian?

Kehampaan bahwa di sini laksana orang yang hidup sendiri, terpisah jarak saudara-suadaramu?

Setelah lelah bekerja di lain kota dan pulang hanya mendapati tempat tinggal yang sunyi?

Pada suatu malam kau pernah bertanya, adakah rahasia di balik kesepianmu, hai yang menyembunyikan berita?

Malam teramat gelap dan misteri.

Kau kian merasa seperti anak yang hilang.

Sepinya waktu, sambil berbaring menjaring saat-saat yang telah lalu dan angan-angan esok hari.

Adakah kau adalah sahabat sepi?

Tapi memang waktu tak pernah kembali, maka jangan harapkan ceria kecilmu bersama penuh anggota keluarga akan terulang.

Teruslah jalani, ini hanyalah salah satu fase yang harus dilalui sebelum cerita berganti kisah. Tenanglah, tidak ada tahap yang underscript, semua telah digariskan.

Tenanglah Catriks, walau waktumu sekarang seperti segelas air putih, maka nikmatilah. Air yang hambar bila disyukuri akan mendatangkan kenikmatan.

Namun jika kau sudah tak tahan, bergegaslah mencari –

Karena kesepian berkepanjangan berpotensi pada kerapuhan.

Tapi apa pun itu Catriks, jangan bersedih untuk ini. Kamu punya beberapa kegiatan dan beberapa teman. Kegiatan dan teman. Tersenyumlah, semua ini hanyalah hal yang sangat sepele!!



 
Wednesday, January 24, 2007
posted by catur catriks at 5:08 PM | Permalink
menyimpan telinga dan lisan
Apakah Anda sering mendapatkan rahasia dari orang lain?
Apakah Anda salah satu orang yang enak untuk diajak bercurhat?
Bila banyak orang yang menceritakan masalahnya kepda Anda,
mungkin ini salah satu hal yang menyenangkan.
Ini menandakan kalau Anda disenangi oleh mereka.
Apabila banyak orang yang suka menceritakan masalah pribadinya pada Anda,
ini menandakan Anda dipercaya oleh mereka.

namun berhati-hatilah.
berhati-hati apabila orang yang berbicara kepada Anda mengungkapkan
sebuah rahasia pribadinya.

- Aku begini, begitu.
tolong, jangan sampaikan kepada siapa pun.


apabila kalimat ini telah jatuh, satu tanggung jawab
lagi harus kau pikul, yaitu menjaga rahasia orang lain
yang telah kamu ketahui.
jangan sampai kau menceritakannya kembali kepada orang lain.
karena apabila kita menyampaikan
rahasia kepada satu orang saja,
maka celakalah lidah kita.

- aku tahu sesuatu tentang dirinya.
ia pernah mengatakanya padaku.
tapi ini rahasia, aku akan memberitahukan kepadamu
dan jangan sampaikan kepada siapa pun.
dia itu pernah begini begitu. rahasia lho.


bila hal ini telah kita lakukan, maka sama saja kita
telah menyebarkan rahasia itu kepada semua orang.
rahasia yang disimpan oleh dua orang,
namun ada orang ketiga yang telah mengetahui,
maka rahasia itu bukanlah rahasia lagi.

sebagai manusia kita tentu punya komitmen untuk menjaga kepercayaan teman.
sebagai manusia kita punya sifat kehati-hatian dalam berucap.
tapi sebagai manusia kita kerap dihinggapi salah dan khilaf.
apalagi bagi mereka yang lidahnya tak pernah berhenti bicara.

sekali kita membocorkan rahasia,
selamanya kita dicap sebagai orang yang tak bisa dipercaya.
walau kita telah meminta maaf,
tapi image itu akan tetap ada.

- aku telah menancapkan paku pada kayumu. tapi aku sadar itu salah.
aku minta maaf, paku itu telah aku cabut dari kayumu.


- ya, aku telah memaafkanmu. tapi lihatlah,
kayuku tetap berlubang, bekas tancapan pakumu.


ketahuilah, orang mungkin telah memaafkan kesalahan
yang pernah kita lakukan, tapi orang tidak pernah lupa
terhadap apa yang pernah kita lakukan.

menjaga rahasia,menjaga nama baik adalah hal yang besar.
kita akan mudah dan ringan ketika menceritakan
rahasia orang kepada yang lain.
tapi hal ini sulit dan berat bagi orang yang
mengetahui bahwa rahasianya telah bocor.

lebih baik simpan telinga kita dari rahasia orang lain.
tahanlah orang yang akan menceritakan rahasianya
dengan mengatakan bahwa kita sulit untuk menjaga rahasia.

jagalah pikiran dari prasangka,
telinga kita dari bisik-bisik tak sehat
jagalah lidah kita dari menggunjing orang lain.
jagalah lidah kita apabila telah terlanjur
mendengar rahasia orang.

ketahuilah teman,
kita tidak akan rugi apabila kita tidak mengetahui
rahasia teman2 di sekeliling kita.
tidak akan rugi apabila kita tidak menceritakan
rahasia kita kepada siapa pun.

apabila di suatu saat kita merasa berat akanm asalah kita,
ceritakanlah semua pada Yang Maha Mengetahui.

hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,sesungguhnya sabagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. --(QS. 49:12



- Untuk mengingatkan penulis dan mengajak pembaca, semoga ada manfaat. Amin (Tulisan ini telah dimuat di kotasantri.com pada kolom beranda-percik)

 
posted by catur catriks at 10:29 AM | Permalink
Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah
Ketika ditugasi untuk bedah buku, aku sering menganggap sebagai pekerjan yang mudah. Dengan mempelajari beberapa hari, sedikit banyak isi buku akan aku kuasai. Hanya saja bedah buku harus dilaksanakan sesuai rencana semula. Karena apabila rencana mengaret, maka apa yang kukuasai akan menguap. Ingatanku terlalu pendek.

Bedah buku sepertinya memang tidak terlalu sulit. Tapi itu dulu, ketika aku masih kuliah dan yang kukaji adalah buku2 sastra. Bagaimana bila sekarang yang kuhadapi adalah buku tentang dakwah?

Seorang ustad meminta mempelajari buku berjudul ‘Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah’ karya Fathi Yakan. Buku lama memang, tapi akan selalu relevan dengan pergerakan (harakah) Islam.
Rencana, pekan depan bedah buku dilaksanakan.

Ya,ini buku yang lebih dari biasa hingga aku merasa kesulitan.atau mungkin aku yang sangat biasa, tak pernah akrab dengan buku-buku agama, sehingga ini menjadi sullit.
Walau akhirnya aku dapat menyimpulkan isinya, tahu sebab-sebab tasaquth, tapi aku tak dapat meraih roh buku tersebut. Cie ..bukan untuk melebihkan atau mengurangkan, tapi buku ini terasa jauh dari hidupku.

Jauh, ketika kumaknai kembali kata: dakwah.

Aku terlebih dahulu jatuh. Aku tak punya daya tawar terhadap buku ini.. dan kurasakan inilah kekerdilanku, anak manusia yang bodoh.
Bagaimana mungkin aku bisa menghayati tentang gerakan, seluk beluk dakwah, ketika aku tak pernah berdakwah apalagi mersa diri sebagai pendakwah?

Sebentar, sepertinya aku harus mengobati keterjatuhanku. Aku akan berapologi, mudah2an tidak mengada2 dan bermaksud riya.

Aku harus memahami, bahwa dakwah tidak hanya diartikan seperti ustad yang berbicaara di depan banyak jamaah. Aku harus memahami, bahwa dakwah tidak hanya diartikan seperti penulis ilmu agama yang bukunya tersebar di segala penjuru.
Tapi, walau hanya menghadiri sebuah taklim juga termasuk dakwah, tapi ikut membantu menjadi panitia kegiatan sosial atau keagamaan juga termasuk dakwah. Tapi memuat tulisan2 keagamaan dalam blog ini pun terhitunng dakwah.
Bila dengan menghadiri taklim, suasana menjadi ramai dan semangat untuk mengkaji Islam bertambah,jika hadir dalam sebuah jamaah, ukhuwah Islamiyah bertambah, bila dengan memuat tulisan tentang kebaikan dalam blog bisa dibaca orang dan memberi kesan tentang kebaikan itu,maka

aku pun tengah berdakwah.
Walau seperti debu di padang pasir.

Karena sekarang aku ikut sebuah jamaah, karena aku ikut kegiatan keagamaan. Maka cukup legalah hatiku atas apologi ini. Bertambah lega setelah membaca kalimat, kekeruhan jamaah masih lebih baik daripada kejernihan pribadi.
Nah, apakah ada di antara kita, seorang yang pandai ilmu tapi hanya beribadah secara pribadi? Apakah ia belum melibatkan diri dalam sebuah jamaah?

Kembali pada Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah, semoga kelak aku bisa menghayati buku ini.
Semoga para mujahid tetap tegar dalam menyerukan Islam.
Barakallohu
 
Saturday, January 20, 2007
posted by catur catriks at 12:17 PM | Permalink
Jikalah..
(dikutip dari dudung.net)


Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha
senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja
dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak
mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam
raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi
langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat
menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap
saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup
bersabar meski hanya sedikit jua?)]

Kiriman : Aida Sari (aid_1612@yahoo.com)
 
Wednesday, January 10, 2007
posted by catur catriks at 8:01 AM | Permalink
tik tik

Dan apabila jalan ini telah berujung
Selalu akan dimulai jalan yang baru
Seperti kau merasakan peristiwa yang berlari

Lompatannya meninggi karena ingin lekas menaruh hati yang telah begitu berat. Hujan yang dihindari menderas menembus apa pun yang memayungi. Hanya basah, dalam, dan menggigilkan. Sebelum air itu turun, sebuah guntur mengawali untuk menggetarkan ketenangan. Mengguncang nyaman yang melena. Mendung raksasa membawa gumpalan hitam, titik air jenuh, mengalir angin di angkasa menyerupa payung hitam di atasnya. Bukan lalu gerimis, tapi hentakan hujan yang tumpah. Suara telepon mengabarkan dengan tangis, satu saudara meninggal. Satu saudara gemetar, dana operasi anak lenyap dilari pelari tak berjejak. Wajahnya kuyup. Tapi masih berusaha menghindar bahwa apa yang ada hanyalah yang tiada dan tidak ada apa-apa. Namun petir kembali, sepupu di dekat kota terkena tifus yang memanjang, terlihat benjolan tulang, kian menonjol. Hujan menderas, hujan menumpah. Kakinya tersandung dan kepala terpentok dan .. satu hal yang kemudian disesali. Pada akhirnya ia tidak berlari dari hujan. Karena ia sadar, tumpahan air itu untuknya, untuk keluarganya, mereka yang dicintai, dan untuk keinginannya yang juga tak mau penuh. Ia buka baju agar basah tubuh, agar kulit, agar daging, agar tulang: terasakan, harus terasakan. Ke manapn mata, terlihat genangan, ke mana melangkah. Maka ia duduk dan menerima.

Hujan ini untuknya. Simpan hindar dan lompatanmu.

Dan apabila jalan ini telah berujung
Selalu akan dimulai jalan yang baru
Seperti kau merasakan peristiwa yang berlari

 
Tuesday, January 09, 2007
posted by catur catriks at 10:48 AM | Permalink
Ketika Pagar Berduri Membatas Halaman
Ada cerita yang sering kita dengar, atau mungkin dongeng pelipur, bahwa tengah berjalan seorang anak dalam kebun. Langkah kesekian, ia menemukan sebuah kepompong yang bergerak dari gantungannya, di sebalik tulang daun.

Satu benjolan kemudian menyembul dan mendesak kulit, keluarlah sepotong kaki kecil, bergerak menyepak, menendang. Muncul dua kaki, muncul kepala, oh, nampaknya ada hewan kecil yang ingin keluar dari dalamnya. Kesulitan sekali hewan itu. Kepompong tersebut seperti begitu sesak untuk tubuhnya dan karenanya hewan itu terus saja memberontak, menendang, menyikut lagi, terus dan lagi. Ia ingin menghancurkan sesuatu yang menghalangi. Dan akhirnya tubuh hewan itu bisa keluar walau dengan susah payah. Maka terbanglah kemudian ia. Seekor kupu-kupu.

Si bocah menyaksikan dan menyimpan sebuah kesan. Ia kembali berjalan. Langkah kesekian ia temukan lagi sebuah kepompong yang sama, yang juga tengah bergerak-gerak. Dan si bocah berpikir, pasti ada kupu di dalam kepompong itu yang sedang kesulitan untuk keluar.
Ia ambil kepompong itu dan ia menyobek sisi-sisi kulit pembalut, berharap si kupu bisa lebih mudah keluar dan terbang. Yang terjadi malah di luar perkiraannya. Kulit-kulit kupu terluka dan akhirnya saat kulit kepompong habis dikupas, habis pula riwayat si kupu. Ia tidak bisa terbang, malah mati jatuh ke tanah.

Kita semua tahu, bahwa kedewasaan tidak bisa dipaksakan, kesulitan tidak bisa sekonyong-konyong dihapus. Semua butuh perjuangan seperti kupu yang pertama yang harus bersusah payah dengan kesulitannya untuk bia terbang. Ia harus menendang, memberontak, menyikut kesulitan itu hingga akhirnya berhasil.

Seorang ustadah pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang kemudian ia jawab sendiri:
Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harapkan dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?
Tidak!
Ia akan mengantarkannya dalam bentuk ujian yang terlihat berat, ruwet, jelek. Beban masalah yang menderas. Kebahagiaan dan keindahan hanya akan bisa didapatkan setelah kita mampu melewati ujian itu.

Ada seorang anak yang berniat berbakti kepada orang tuanya malah harus melewati sebuah kepedihan yang berat.
Setelah ia bekerja di kantor yang sesuai, ia berniat membahagiakan orang tuanya dengan gaji yang baru seberapa.
Baru ia berniat, orang tuanya malah jatuh sakit dan sakitnya begitu dekat dengan kematian. Si anak bergetar ketakutan kalau ia tidak punya waktu lagi utuk bisa berbakti. Maka berhari-hari ia harus menunggui orang tuanya di rumah sakit tanpa bisa ditinggalkan. Orang tuanya menuntut ia untuk selalu ada di samping. Bangun waktu malam minta minum, mengantar ke kamar kecil, membersihkan kotorannya, begadang hingga pagi, dan aneka kepayahan lain. Di sisi yang berbeda, karena tak masuk kerja dalam beberapa hari, si anak kehilangan pekerjaannya. Pada saat itu, dadanya terasa begitu sempit. Tapi ia terus bertahan dan berdoa karena waktu tidak pernah berhenti. Peduli atau tidak, matahari akan tetap terbit keesokan harinya. Meninggal atau tidak, ia akan tetap merawat orang tuanya, tidak ada waktu hanya untuk bersedih.

Akhirnya si orang tua sembuh. Biaya rumah sakit telah ditebusnya dengan mengutang uang ke sana ke mari, dengan pencarian yang penuh dengan rasa malu dan sulit karena yang dibutuhkan tak sedikit. Toh akhirnya selesai.
Pada suatu malam ketika ia duduk di emperan, orang tuanya menghampiri, tanpa disangka ia mengucapkan kata terima kasih yang begitu dalam kepada anaknya. Si anak terpaku, hatinya terasa terbang.

Kesulitan yang dihadapi pada akhirnya akan selesai. Kesulitan yang dikeluhkan hanya akan menambah pedih. Menghadapi dengan keyakinan dan doa adalah jalan. Inilah keimanan yang positif dalam merespon takdir berupa kesulitan dari Tuhan, seberapa pun menyakitkannya kesulitan itu.

Ilustrasi di atas mungkin masih ringan bila dibandingkan dengan kesulitan kita pada kenyataannya. Jika itu memang, apakah hati kita bisa serupa baja?
Kesulitan yang datang bukan untuk dikeluhkan apalagi diratapi. Meratap adalah sebuah penyakit. Sadar atau tidak, meratap membawa kita pada kelemahan, futur terhadap nikmat dan berburuk sangka kepada Tuhan.

Setiap orang mempunyai kemampuan. Dan karena kemampuan ini, sebagian orang sadar, apabila ia bisa menghadapi dengan berlari, untuk apa harus berjalan? Bila mereka mengetuk pintu dan si tuan rumah tak juga mendengar, maka mereka perlu mengetuk pintu sedikit lebih keras. Artinya usaha yang dilakukan adalah usaha yang optimal. Karena kita dilahirkan bukan selamanya untuk menjadi anak kecil yang selalu menangis di luar pagar. Kita harus bisa memasuki halaman mesti mungkin pagar itu berduri. Dan pada akhirnya kita akan memahami, bahwa kesulitan yang kita hadapi pada dasarnya adalah sebuah pemancing di mana kita harus mengeluarkan segenap kemampuan yang ada dalam diri. Memahami bahwa pada dasarnya kesulitan yang diberikan bertujuan untuk mengingatkan kita untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

Mari bergerak, mari bekerja kembali. Kesulitan pasti ada tapi di setiap kesulitan ada kemudahan dibaliknya. Teruslah menendang, menyikut, dan memberontak kesulitan yang datang. Terus dan lagi. Sampai pada akhirnya pada suatu saat, ketika kita tidak mampu lagi karena di luar kesanggupan, kita disuruh berhenti dan pulang, oleh Tuhan. Di mana kita tidak akan berada di halaman ini lagi.
 
Friday, January 05, 2007
posted by catur catriks at 5:54 PM | Permalink
Ia, mau pulang
saat kau menutup pintu
hatiku terbuka dari getarnya
saat kau melambaikan tangan
sebuah harapan menerusup

ada yang ingin menyimpan senyum itu
pada salah satu sudut ruang
di mana ia akan ditemukan
yang sekarang disebut sebentar lagi

musim hujan ini
membawa pula musim sunyi
pada pembaringan yang gelap
jiwa kerap melesap jatuh
dalam penjumlahan yang tak juga
kunjung genap

dan mata melihat sepanjang waktu
ada atau tiada wajah itu
dan pikiran itu mengisimu
di waktu sibuk lebih-lebih
di senggang itu
tapi tak penuh
ia menekan untuk jangan dulu penuh
dan berharap semoga penekanan ini bukan
mengeluh

(pada saat nusim ini berganti dan cerita baru harus dimulai seorang anak keraguan akan meletakan dayung dan memilih satu perahu untuk menyimpan langkah lajang jika pedoman dari nahkoda tidak berubah kalaupun berganti ia akan menanggalkan nahkoda dan mengikuti perintah diri karena waktu kian menyempit dan menuakan tubuh serta sehat keraguan akan menjelma kepastian keberanian itukah intinya?)

saat kau menutup pintu
getarmu terlihat waktu
mata menatap sepatu

saat kau melambaikan tangan
telah kusuruh seorang tukang
membuat kamar
senyummu kumasukkan dan kukunci pintu
dan ketika musim ini berganti
seorang akan tahu
kan terbukakah kunci kamar?