Tuesday, January 09, 2007
posted by catur catriks at 10:48 AM | Permalink
Ketika Pagar Berduri Membatas Halaman
Ada cerita yang sering kita dengar, atau mungkin dongeng pelipur, bahwa tengah berjalan seorang anak dalam kebun. Langkah kesekian, ia menemukan sebuah kepompong yang bergerak dari gantungannya, di sebalik tulang daun.

Satu benjolan kemudian menyembul dan mendesak kulit, keluarlah sepotong kaki kecil, bergerak menyepak, menendang. Muncul dua kaki, muncul kepala, oh, nampaknya ada hewan kecil yang ingin keluar dari dalamnya. Kesulitan sekali hewan itu. Kepompong tersebut seperti begitu sesak untuk tubuhnya dan karenanya hewan itu terus saja memberontak, menendang, menyikut lagi, terus dan lagi. Ia ingin menghancurkan sesuatu yang menghalangi. Dan akhirnya tubuh hewan itu bisa keluar walau dengan susah payah. Maka terbanglah kemudian ia. Seekor kupu-kupu.

Si bocah menyaksikan dan menyimpan sebuah kesan. Ia kembali berjalan. Langkah kesekian ia temukan lagi sebuah kepompong yang sama, yang juga tengah bergerak-gerak. Dan si bocah berpikir, pasti ada kupu di dalam kepompong itu yang sedang kesulitan untuk keluar.
Ia ambil kepompong itu dan ia menyobek sisi-sisi kulit pembalut, berharap si kupu bisa lebih mudah keluar dan terbang. Yang terjadi malah di luar perkiraannya. Kulit-kulit kupu terluka dan akhirnya saat kulit kepompong habis dikupas, habis pula riwayat si kupu. Ia tidak bisa terbang, malah mati jatuh ke tanah.

Kita semua tahu, bahwa kedewasaan tidak bisa dipaksakan, kesulitan tidak bisa sekonyong-konyong dihapus. Semua butuh perjuangan seperti kupu yang pertama yang harus bersusah payah dengan kesulitannya untuk bia terbang. Ia harus menendang, memberontak, menyikut kesulitan itu hingga akhirnya berhasil.

Seorang ustadah pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang kemudian ia jawab sendiri:
Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harapkan dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?
Tidak!
Ia akan mengantarkannya dalam bentuk ujian yang terlihat berat, ruwet, jelek. Beban masalah yang menderas. Kebahagiaan dan keindahan hanya akan bisa didapatkan setelah kita mampu melewati ujian itu.

Ada seorang anak yang berniat berbakti kepada orang tuanya malah harus melewati sebuah kepedihan yang berat.
Setelah ia bekerja di kantor yang sesuai, ia berniat membahagiakan orang tuanya dengan gaji yang baru seberapa.
Baru ia berniat, orang tuanya malah jatuh sakit dan sakitnya begitu dekat dengan kematian. Si anak bergetar ketakutan kalau ia tidak punya waktu lagi utuk bisa berbakti. Maka berhari-hari ia harus menunggui orang tuanya di rumah sakit tanpa bisa ditinggalkan. Orang tuanya menuntut ia untuk selalu ada di samping. Bangun waktu malam minta minum, mengantar ke kamar kecil, membersihkan kotorannya, begadang hingga pagi, dan aneka kepayahan lain. Di sisi yang berbeda, karena tak masuk kerja dalam beberapa hari, si anak kehilangan pekerjaannya. Pada saat itu, dadanya terasa begitu sempit. Tapi ia terus bertahan dan berdoa karena waktu tidak pernah berhenti. Peduli atau tidak, matahari akan tetap terbit keesokan harinya. Meninggal atau tidak, ia akan tetap merawat orang tuanya, tidak ada waktu hanya untuk bersedih.

Akhirnya si orang tua sembuh. Biaya rumah sakit telah ditebusnya dengan mengutang uang ke sana ke mari, dengan pencarian yang penuh dengan rasa malu dan sulit karena yang dibutuhkan tak sedikit. Toh akhirnya selesai.
Pada suatu malam ketika ia duduk di emperan, orang tuanya menghampiri, tanpa disangka ia mengucapkan kata terima kasih yang begitu dalam kepada anaknya. Si anak terpaku, hatinya terasa terbang.

Kesulitan yang dihadapi pada akhirnya akan selesai. Kesulitan yang dikeluhkan hanya akan menambah pedih. Menghadapi dengan keyakinan dan doa adalah jalan. Inilah keimanan yang positif dalam merespon takdir berupa kesulitan dari Tuhan, seberapa pun menyakitkannya kesulitan itu.

Ilustrasi di atas mungkin masih ringan bila dibandingkan dengan kesulitan kita pada kenyataannya. Jika itu memang, apakah hati kita bisa serupa baja?
Kesulitan yang datang bukan untuk dikeluhkan apalagi diratapi. Meratap adalah sebuah penyakit. Sadar atau tidak, meratap membawa kita pada kelemahan, futur terhadap nikmat dan berburuk sangka kepada Tuhan.

Setiap orang mempunyai kemampuan. Dan karena kemampuan ini, sebagian orang sadar, apabila ia bisa menghadapi dengan berlari, untuk apa harus berjalan? Bila mereka mengetuk pintu dan si tuan rumah tak juga mendengar, maka mereka perlu mengetuk pintu sedikit lebih keras. Artinya usaha yang dilakukan adalah usaha yang optimal. Karena kita dilahirkan bukan selamanya untuk menjadi anak kecil yang selalu menangis di luar pagar. Kita harus bisa memasuki halaman mesti mungkin pagar itu berduri. Dan pada akhirnya kita akan memahami, bahwa kesulitan yang kita hadapi pada dasarnya adalah sebuah pemancing di mana kita harus mengeluarkan segenap kemampuan yang ada dalam diri. Memahami bahwa pada dasarnya kesulitan yang diberikan bertujuan untuk mengingatkan kita untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

Mari bergerak, mari bekerja kembali. Kesulitan pasti ada tapi di setiap kesulitan ada kemudahan dibaliknya. Teruslah menendang, menyikut, dan memberontak kesulitan yang datang. Terus dan lagi. Sampai pada akhirnya pada suatu saat, ketika kita tidak mampu lagi karena di luar kesanggupan, kita disuruh berhenti dan pulang, oleh Tuhan. Di mana kita tidak akan berada di halaman ini lagi.