Friday, February 17, 2006
posted by catur catriks at 7:46 AM | Permalink
katakoe
menyesuaikan kehadiran dengan membawa sikap perlu dilakukan. tapi, sungguh, mengakrabkan diri di tempat yang benar-benar baru itu hal yang sulit dilakukan. mgkin ini bagian dari sekian kelemahanku. begitukah?
smoga terbuka slalu pintu penerimaan
 
Thursday, February 16, 2006
posted by catur catriks at 1:20 PM | Permalink
cerita tiga

PELANGI DI BAWAH KAKIKU


Ini hari terakhir aku mengikuti ujian semester. Aku telah menyelesaikan semua soal mata pelajaran. Dari hari Senin sampai Sabtu ini, aku selalu berkonsentrasi penuh. Berkonsentrasi agar aku bisa mengerjakan sola ujian dengan baik. Dan betapa melelahkan kulalui hari-hari tersebut.
�Baiklah, karena kamu sudah selesai, Papa dan Mama akan mengajakmu untuk berlibur,� kata Papa menawarkan. Tentu aku sangat senang.
�Berlibur, asyik! Ke mana Pa?� tanyaku ingin tahu.
�Ke bukit Kalasan.�
�Kita berkemah, Pa?� aku masih penasaran.
�Ya, di atas bukit itu.�
Aku, tentu, sangat gembira mendengarnya.
Kami sekeluarga berkemas. Mama pergi ke minimarket terdekat untuk membeli bekal. Papa mempersiapkan peralatan kemah. Ada tenda, tikar, lampu badai, senter, tas, besar, alat masak, paravin, dan lain-lain. Sementara aku menyiapkan baju hangat, kamera, radio, dan sleeping bag. �Pasti akan sangat menyenangkan,� pikirku.
Bukit Kalasan adalah tempat berkemah yang indah. Udaranya sejuk dan pemandangan di sekitar bukit juga sangat mempesona. Tapi itu kata orang. Saya sendiri belum pernah ke sana.
Kata Papaku yang sudah sering ke sana sewaktu masih remaja dan belum menikah dengan Mamaku, bukit itu berada di atas sebuah danau yang cukup luas. Sementara di atas bukit tersebut, dengan memandang ke sebelah selatan, maka orang akan melihat hamparan laut biru yang mahaluas. Samudra Hindia, membentang di sepanjang pulau Jawa sebelah Selatan. Sementara di sebelah Timur dari bukit itu, terlihat dua buah gunung yang menjulang ke langit seperti pasangan kerucut.
Aku bisa membayangkan betapa bahagianya aku setibanya di bukit kalasan tersebut.
Aku, Mama, dan Papa akhirnya tiba di atas puncak bukit setelah hari menjelang petang. Papa langsung mendirikan tenda. Mama membantunya. Aku duduk-duduk saja sambil beristirahat karena kakiku terasa pegal. Pegal karena mendaki bukit yang cukup tinggi. Setelah selesai kami semua memasukkan barang-barang ke dalam tenda.
Aku berjalan-jalan di sekitar bukit Kalasan tersebut. Ternyata di sekeliling tendaku, sudah banyak orang yang datang dan mendirikan tenda-tenda mereka. Bahkan telah ada sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar. Ramai, mungkin karena hari ini hari menjelang liburan.
Aku mengambil gambar dengan kameraku, Matahari yang nyaris tenggelam seluruhnya. Sinarnya tidak lagi menyilaukan, tapi jingga kemerahan dengan awan putih menyelimuti.
Hari semakin gelap. Papa hendak menyalakan api unggun di depan tenda.
Tapi tiba-tiba �.
Angin basah datang dengan cepat. Menyusul hujan besar yang menyerang tubuh kami.
�Aduuh, kok hujan sih ...?� aku menggerutu.
Semua orang yang berada di luar berlari masuk ke dalam tenda masing-masing, termasuk aku, Papa, dan, Mamaku. Kami hanya bisa berlindung di dalam tenda dengan sinar lampu badai yang remang.
Hujan mengacaukan semuanya.
Tenyata hujan tak kunjung reda. Aku berpikir, liburanku tak seindah yang aku bayangkan sebelumnya. Sepanjang malam aku hanya tidur di dalam tenda karena lelah. Lelah dan kecewa.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Aku keluar dari tenda. Rupanya hujan telah lama reda, menyisakan tanah cadas yang basah. Di depan sebuah tenda, kulihat ada dua orang pemuda yang sedang menyeduh kopi.
Kurentangkan tanganku ke atas untuk melemaskan otot-ototku yang kaku. Sepertinya Matahari sebentar lagi akan muncul di timur sana. Suasana masih terasa cukup dingin.
�Hai, kemari! Di sini ada perapian, kamu bisa ikut menghangatkan badan!� salah satu pemuda yang tadi dilihatnya sedang membuat kopi bersama pemuda yang lain. Memang di sekitar kedua pemuda itu ada sebuah perapian yang sekarang sedang mereka kerubungi dengan sesekali menyeruput kopi yang mereka buat. Suara pemuda yang tadi memanggilnya terdengar cukup ramah.
�Ya, terima kasih,� jawabku. Tentu saja aku tak berani ke sana tanpa sepengetahuan Mama dan Papaku.
Di ufuk Timur, langit mulai menguning. Matahari pagi akan segera muncul. Kuambil kameraku dan kujepret gambar Matahari yang mengintip di balik gunung. Aku memotretnya beberapa kali. Aku juga memotret pemandangan lain.
Tak terasa Matahari pagi telah seluruhnya bersinar, walau sinarnya belum seterang biasanya. Tiba-tiba saja aku melihat dua pemuda tadi berdiri dan berlari memandang ke arah danau yang berada di bawah bukit. Mereka menunjuk-nunjuk sesuatu sambil bergumam. Karena penasaran, aku mendekat, memandang seperti yang dilakukan oleh dua pemuda itu, memandang ke bawah, ke arah danau.
�Tuhan Maha Besar �!!!� seruku.
Aku melihat ada pelangi di bawah sana, pelangi di atas danau! Betapa jelasnya, betapa dekat, betapa indah!
�Luar biasa!� seruku kembali.
Warna pelangi itu sangat nyata terlihat di mataku, ia begitu dekat, bahkan sepertinya aku bisa meraih pelangi itu dengan kedua tanganku. Aku takjub dengan kejadian alam di bukit ini.
Hal yang juga luar biasa adalah, pelangi itu ada di bawahku. Karena pelangi itu di atas danau sementara aku berada di atas bukit. Ya, benar, pelangi itu ada di bawahku.
Dengan segera aku mengabadikan gambar-gambar pelangi tersebut dalam kameraku.
Aku membangunkan Papa dan Mama. Mereka kaget dan tampak takjub begitu melihat ada pelangi di atas danau.
Aku meminta Papa untuk memfotoku dengan latar belakang langit dan pelangi itu. Jepret � jepret �.
Aku yakin, hasilnya akan tampak sangat indah. Dan aku juga yakin, di dalam foto, pelangi itu akan tampak di bawah kakiku.
Aku sadar, pagi ini adalah pagi yang terindah dalam hidupku.
Memang, Tuhan maha besar.
www.penulislepas.com



 
posted by catur catriks at 10:39 AM | Permalink
cerita doea

TERTIDUR DI KELAS

Namaku Adi. Aku baru saja mengalami peristiwa yang sedikit memalukan. Pengalaman tersebut terjadi tadi pagi, tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Februari 2006. Kejadiannya di ruang kelas saat jam pelajaran bahasa Indonesia sedang berlangsung.
Ibu Fatima ketika itu sedang mengajar. Menerangkan mengenai penggunaan ejaan bahasa Indonesia di dalam kalimat. Sebenarnya aku sangat tertarik dengan pelajaran tersebut. Karena itu aku terus mendengarkan keterangan dari ibu Fatima. Tapi tiba-tiba mataku terasa berat. �Uaaagh,� aku menguap beberapa kali. Pandanganku terasa gelap. Dan selanjutnya, aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku kaget ketika sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku membuka mata. Dan ternyata kepalaku sedang bersandar di atas meja dengan kedua tangan yang terlipat. Rupanya aku baru saja tertidur.
Suara tawa teman sekelas terdengar riuh. Iiih, malunya. Mereka menertawakanku. Aku celingukkan dengan muka merah dan mata yang berkedip-kedip karena ngantuk. Ibu Fatima tersenyum di sampingku. Rupanya tangan ibu Fatimalah yang tadi menyentuhku hingga aku terbangun. Buru-buru aku menunduk malu.
�Adi, mengapa kamu tertidur?� Tanya bu Fatima.
�Maaf, tapi saya mengantuk sekali, Bu,� jawabku dengan perasaan bersalah.
�Jam berapa tadi malam kamu tidur?�
�Jam satu malam, Bu,�
�O, pantas,� kata bu Fatima.
Suara tawa teman-teman terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih pelan.
�Itu terlalu malam, Adi,� lanjut bu Fatima, �apakah karena kamu belajar?�
Sebenarnya aku ingin menjawab, �Iya Bu, saya belajar sampai larut�. Tapi aku tak berani berbohong. Karena sebenarnya tadi malam aku nonton film perang di TV dan bukannya belajar.
Maka aku menjawab, �Tidak, Bu. Tadi malam saya nonton film,� kataku. Bagaimanapun juga aku harus jujur.
Untunglah ibu Fatima tidak marah. Beliau menyuruhku ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Aku keluar kelas dengan sesekali mengucek mata yang masih sedikit berat.

 
Wednesday, February 15, 2006
posted by catur catriks at 4:23 PM | Permalink
memelihara ketersinggungan
Ternyata memelihara ketersinggungan itu cukup sulit.
Dan bila hati sendiri yang tersinggung, sepertinya �..

Aku jadi ingat sama pak agus maladi.

Dia pembimbing skripsiku. Saat mengajukan ujian, hari yang kuminta tidak ia sanggupi karena ia harus pergi ke purwokerto. Smentar penguji yang lain menyangupi,termasuk dekan sendiri. Pak agus meminmta agar ujian diundur, tapi karena batas pandaftaran wisuda terlalu dekat mengejar, aku menolak usulannya.

Aku meminta, kalu dia tidak bisa datang saat ujian, titipkan saja nilainya pada penguji yang lain. Toh dia sendiri tahu baagaimana skripsiku karena beliaulah yang membimbingku.

Tapi malang, mendengar pendapatku, dia, pembimbingku dan sekaligus ketua jurusan, TERSINGGUNG

Aku ingat sepertinya waktu itu aku kelabakan. Menjadi mahasiswa dengan pendapat yang paling bodoh.

Apakah saaat itu karena aku gugup dikejar waktu? Entahlah ���. Itu sudah lama, hampir setahun.

Sekarang aku merasakan dan tahu, ternyata tersinggung itu menyakitkan.

Ia seorang wanita, akhwat, tahu artinya khan? Dia masih saudaraku. Itungannya dia itu adikku
Aku bangga punya saudara dengan perilaku yang terkendali
Selain saudara, kami jg berteman akrab, pernah satu organisasi.
Di antara kami, tentu, ada teman2 lain.

Suatu saat aku mendengar ia akan menikah. Aku menunggu kabar darinya, sambil mempersiapkan sesuatu.

Aku bertemu dengan adi lewat sms.
�tanggalnya kapan?� tanyaku, karena mungkin dia tahu.
�lho mang blm di telp? 5 feb n dah mnta doa restu maa gue,� jawaban yang mengagetkan

Temanya dikasih tahu, dan minta doa restu, tapi aku? Yang juga teman dan saudara? Dilupakankah?
Aku menunggu, �mungkin belum,� pikiranku menenangkan.

Lama kabar gak datang sampai hampir 5 feb. aku memutuskan untuk bertanya pada Adi.
�wah, nikahnya dah diajukan kemarin, dah seminggu�. Fuh .. hampir aku tak percaya.

Tapi bagaimanapun ia adalah saudaraku, walau aku berada di tempat jauh. Maka kusampaikan ucapan selamat dan do�a atas pernikahannya lewat sms. Pada saat itu pulsaku begitu penting untuk keperluan kerjaku, jadi aku tak menelponnya.

Dia membalasnya dengan misscall

Hatiku sedikit bergetar

Kutambahakan lagi selamat dan do�ku, kebahagianku karena pernikahan itu, dan kutanyakan pula tentang siapa suaminya, dari mana. Aku jg minta maaf karena aku tak bisa datang ke pernikahanya. Walau aku tahu, aku tak mengetahui kapan ia menikah.

Lama aku menunggu. Malam harinya ponselku berbunyi, � ah dari dia. Tapi buru2 dimatikan.
Rupanya, sekali lagi dia hanya misscall. Aku mengira ini tanda ia akan mengirim sms atau apa.
Tapi ternyata tidak

Aku merasa sakit
Aku tersinggung

Sesuatu yang kusiapkan untuknya, kupandang, hanya kupandang tanpa ada keinginan lagi untuk membawanya ke kantor pos.
Tapi ini tak begitu berarti
Karena aku lebih sakit dari perlakuannya. sepertinya aku tak berharga, sebagai teman atau sebagai saudara.dia acuh, padahal aku sudah berusaha untuk mengetuk pintu.

Pada saat larut, cerita itu masih terbawa.kurenungkan. tapi sepertinya ada sesuatu yang nggak beres. Pada diriku.mengingat ia anak yang shaleh, tahu agama, rajin dakwah, akhwat yang disenangi banyak orang

Ya, pasti ada sesuatu pada diriku �.

Aku terjun ke jurang dengan berpikir, �ibarat di laut, aku adalah buih, keberadaannya tak begitu pantas untuk ikut diperhitungkan.�

Seperti itukah diriku?

Ah � tidak!
Saya tidak terima!
Saya benar-benar tersinggung!

Aku berusaha untuk selalu menghormati semua orang dengan perannya masing-masing �

dalam benak: sabar tur, hidup memang dibangun dengan aneka. Itu hny sesuatu yang kecil, tak pantas kau membuang waktu untuk itu. Amboi �.
Satu lagi tur, ingatlah pandangan mata pak agus maladi waktu itu �

http://www.al-islam.com
 
Friday, February 10, 2006
posted by catur catriks at 8:11 AM | Permalink
borriinnggggggg
dari tdi pagi banget rasane ws di hingapi rs bosen. mandi dah antri, mo go ke kantor ujan lagi. yah, kamis yang buruk, aku kira. dan skrng di kantor kerjaan rasane ra entek2. capek ngurusnya.capek kerj, jam istirht mo makan, eh hujan lagi. untung bawa payang. coba klo gak?
ah capek juga nulis kayak gini
malah ambah bosen. ya wis ......

http://majalahannida.multiply.com
 
Wednesday, February 08, 2006
posted by catur catriks at 7:47 AM | Permalink
met pagi

tanggal berapa sekarang?
ah .. ya, tanggal delapan sepertinya. Februari '06 (sadar Tur, 2006 lho!)
ya, tapi met pagi dulu lah. untuk siapa ya?
mudah-mudahan untuk diriku sendiri. terus?
sekarang aku mo kerja, seperti biasanya.
menjemukan atau menyenangkan
untuk sementara, aku hanya menjalani
semoga ternikmati
itu saja
 
Monday, February 06, 2006
posted by catur catriks at 3:33 PM | Permalink
poesi doea

aku pernah ke tempatmu, selagi kalian bercerita
aku menyapa
kalian berbicara
di antara kita tidak ada yang mendengar
ruangan ini, dipenuhi tiga orang yang sombong
ingin dimengerti

akhirnya, aku tak ingin dihubungi oleh siapa pun
padahal, aku ingin menghubungi semua orang, awalnya

tapi aku memang merindukan kalian ...
wajah-wajah polos yang beranjak menjauh
yang kini mungkin telah berdiri di depan pintu
sandiwara

dengan topeng ada di tangan
 
Saturday, February 04, 2006
posted by catur catriks at 3:15 PM | Permalink
crita satoe

Randu, Sainganku

Saya mempunyai saudara sepupu. Dia sepantaran denganku, tapi kami belajar di sekolah yang berbeda di kecamatan yang berjauhan. Walau tempat tinggal kami masih dalam satu kabupaten. Persaudaraan kami begitu dekat, kami pun seringkali saling berkunjung. Selain itu, dan ini yang penting, kami mempunyai hobi yang sama, badminton. Dan pada masalah hobi ini, walaupun kami sering melakukannya berbarengan, tapi pada sesungguhnya kami saling memendam persaingan, di hati kami masing-masing.
Sepupuku itu bernama Randu. Aku tidak tahu arti nama itu. Aku hanya tahu kalau kata Randu adalah nama sejenis pohon kapas. Oleh karenanya, sangat tidak mungkin kalau nama sepupuku itu berarti pohon kapas. Tapi bagaimana kalau itu benar? Tentu lucu sekali, khan?
Kata kakaknya, mas Jati, dia termasuk anak yang tidak disukai oleh teman-teman sekolahnya. Randu anak yang sombong. Tapi itu menurut mereka dan aku tidak percaya. Di mataku dia anak yang pemberani, tangkas, dan – ini yang membuatku iri – ia anak yang berprestasi. Berulang kali randu menjuarai lomba badminton tingkat kecamatan. Sekarang dia sedang mempersiapkan diri untuk berlaga di tingkat kabupaten.
Demikian juga dengan aku. Tahun ini aku akan mengikutilomba tersebut. Karena hal inilah, kami sepakat untuk bersaing. Tentu bersaing untuk merebut kemenaangan.
Bila kami berlatih badminton bersama, walau sebenarnya kami lebih dari sekedar itu. Karena sesunggunhya kami bukan berlatih, tapi BERTARUNG! Ya, ibarat dua pendekar silat yang baru turun gunung dan bertemu untuk mengadu kesaktian. Salah satu harus ada yang mengaku kalah. Jika belum, maka pertarungan akan terus berlanjut, sampai kedua pendekar tersebut kehabisan tenaga. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, tapi begitulah adanya kami.
Pernah suatu haru Minggu aku datang ke rumahnya untuk mengajaknya bertarung. Dan kami langsung berangkat ke gedung olah raga kecamatan yang letaknya tak jauh dari rumah Randu. Tepat pukul sepuluh pagi kami mulai. Aku dengan raket terbaikku dan dia juga menggunakan raket terbaiknya.
Set pertama aku kalah. Skor 13-15. Dia mengejekku.
“Hah, … jadi sayur kau!” katanya. Aku diam saja karena aku tak tahu maksudnya. Mungkin ia hendak mengatakan aku lemah.
Set kedua mulai. Servis pertama darinya yang terlalu tinggi dan dekat dengan net langsung aku sambar. Bola bulu itu meluncur jatuh tepat di bawah kakinya.
“Wah smash-mu lumayan juga!” Dia mengakui.
“Itu belum seberapa, kau akan melihat smash-ku yang lebih tajam.” Aku menyombombongkan diri. sekedar untuk memulihkan mentalku untuk bertarung. Dan benar, semangatku kembali. Kini aku sudah jauh meningggalkanya. Nilaiku 10 sementara dia baru mendapat 6.
Tapi kini dia kelihatan lebih hati-hati. Gerakan mengejar bola dan pukulannya jauh lebih terarah. Benar saja, tiga point langsung ia peroleh secara berurutan. Kedudukan nilai menjadi 10-9.
Aku harus lebih waspada.
Pada akhirnya, setelah melewati reli-reli panjang, aku dapat mengalahkannya. Kedudukan menjadi imbang, 1-1. Tanpa istirahat kami bertarung kembali pada set ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Tapi pada suatu set, ada peristiwa yang terjadi pada pertarungan kami. Pada saat aku mengembalikan kok dengan susah payah karena lelah, kok itu melayang ke wilayah strategis serang Randu. Dengan sekuat sisa-sisa tenaganya, Randu melompat dan menyabetkan raketnya pada kok itu. Kok melayang ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa. Belum sempat tersadar dan menyeimbangkan badan, kepala kok itu dengan keras menghantam bola mata kananku.
“Pluks!”
“Akh!” Aku berteriak kesakitan dan, kemudian terjatuh. Raket di tanganku terlempar entah ke mana. Pandanganku tiba-tiba gelap. Kesadaranku hilang.
Aku sadar dari pingsan panjangku ketika Randu menangis meminta maaf pada mamaku. Rupanya kami berada di rumah sakit. Aku terbaring di sana. Mamaku, papa, kak Jati dan Randu berdiri mengelilingiku. Dan secara perlahan aku menyadari apa yang sesungguhnya telah terjadi pada diriku. Sementara Randu masih saja meminta maaf pada mamaku. Sepertinya ia sangat menyesal.
“Sudahlah, kau tidak bersalah,” kata mamaku dengan tenang, “lihat, dia sudah sadar!” sambil memandangku yang telah membuka mata dengan disertai rasa pegal. Kelopak mataku bengkak dan hitam. Tapi kata dokter, mataku tidak apa-apa. Untunglah, pikirku. Aku pingsan ternyata karena terlalu lelah. Tenagaku habis terkuras waktu bertarung dengan Randu
Ah … Aku jadi penasaran. Apakah sekarang aku benar-benar sayur atau lemah seperti yang dikatakan oleh Randu? Ini tidak mungkin aku biarkan.
Dalam perjalanan pulang, aku duduk bersebelahan dengan Randu. Pada saat mobil membelok ke sebuah tikungan, kusikut dada Randu sambil berbisik pelan.
“Minggu depan kita bertarung lagi!”
Tapi dia tak menjawab. Kutoleh dia, dan ah, … , rupanya Randu tertidur dengan mulut setengah terbuka.***

 
Thursday, February 02, 2006
posted by catur catriks at 3:26 PM | Permalink
puisi satoe

Aku ingin menggembala kerbau
Di sawah sebelum tanam selepas panen

Aku punya empat ekor

Seekor yang besar kuberi nama santi
Seekor yang lain yang bulunya lebih hitam,
Biasa kupanggil si manis
Ia beranak satu
Yang seekor tanpa nama, hanya ia bertanduk lebih panjang

Kugembalakan mereka dengan cambuk penjalin buatan ayah
Gundulku tertutup caping
Kakiku bertelanjang menancap lumpur
Sela-sela jariku mengembang
Jarak antar jemari semakin berjauhan

Aku ingin menggembala kerbau
Ke sawah silamat, ke pelataran semampir, di atas tanggul proyek, ke
Mana pun
Ke tempat yang belum aku kenal

Bila kakiku kaku dan napasku memburu
Aku akan naik ke punggung santi
Kukeluarkan seruling yang tersembunyi
Di balik baju

Pada angin yang mengalun kutiup selongsong itu
Tapi, ah … nampaknya telingaku buta nada

Kulihat sore di barat
Nampaknya kuning, bisikku
Tapi teman kecilku mengatakan itu jingga
Aku teringat kata ibu, ayah menurunkan anak yang buta warna

Pada saat lahir, ada lolong anjing
Walau suaranya masih kalah dengan gema adzan maghrib
Kata ibu, aku lahir tanpa mau menangis
Akhirnya cukup ibu yang menangis
Bukan karena sakit
Juga bukan karena bangga
Hanya kekhawatiran,
anaknya akan tumbuh dengan mulut yang terkunci

Ya, mungkin itu memang jingga
Mengalahku mengakhiri pertikaian kami tentang warna
Mungkin di antara kami tidak ada yang benar

Aku ingin menggembala kerbau
Dengan si jono, dengan si samin yang tak pernah sekolah
Admin yang tak punya ayah
Dan ki parnudi yang langkahnya tak lagi lurus

Bila kami lapar
Jono mencari busil untuk di bakar pada
Kering jerami
Sekamnya akan membuat daging ubi menjadi empuk
Dengan tersenyum, ah … tidak, tapi dengan tertawa
Kami berebut lewat tangan-tangan yang kotor
Tanpa sadar, sukarela kami saling pamer
Gigi-gigi kuning dan kulit wajah yang hitam

Banyak abu melekat di daging ubi yang ikut kami telan

Aku ingin menggembala kerbau
Seperti nartam atau narkam yang kelingking
Kaki kanannya putus terinjak kuku gembalanya
tapi tetap ia giring kerbau itu
Pulang
Dengan mata basah dan darah yang mulai mengental

****

Aku ingin …
Hidup mengikut kodrat
Menerima dengan cara sederhana
Sepi pamrih dan polos
Tentu, setelah berkeringat

Aku ingin …
Mensyukuri
Mensyukuri
Bersyukur kepada Alloh


 
posted by catur catriks at 11:21 AM | Permalink
pesene mae lan bapak

Ÿ tur jaga awakmu, ben ra gampang mriang
Ÿ nek sinau lan kerja sing bener, dadine ana mumpangate
Ÿ bismillah disit nek arep ngapa-ngapa
Ÿ ko wis gedhe, polahe ja kaya cah cilik
Ÿ ko cah lanang, ati-ati, ja dolanan karo cah wadon
(lah … nek iki Ma, mesti ora. Lhaa wong ra na sing gelem je …)
Ÿ adoh ya adoh, merantau. tapi isih nang jawa ya itungane isih cedek. nek ana wektu ya bali. Tilik wong tuwamu
Ÿ aja kelalen nek bar sholat,dongakna wong tuwamu ya?
(ya, insyaalloh …)
Ÿ moga-moga uripmu sing kepenak. Usaha sing bener-bener. Wong tuwamu wong bodho, mangkane, ko, anakku, kudu pinter nggawa urip. Lan sing penting: ko aja budeg, aja picek karo tunggal, karo sedulur, lan karo sisi kiwa tengenmu
(wah, serius amat Pak?)


Ya ayah, Ibu …
Berkahmu adalah berkah Alloh
Doamu akan menyelimuti ananda pada keselamatan
Semoga aku bisa membuat perasaan kalian bangga

Doamu Ayah, Ibu …
(Bila kening ananda sedang berkerut dan mata ananda sedikit basah, ananda sering membayangkan Ibu yang bangkit tengah malam dan bersembahyang, berdoa agar anak-anaknya di beri kelapangan jalan)

I love U mom, dad
Semoga ceria dan senyum senantiasa
Ananda baik-baik adanya
 
Wednesday, February 01, 2006
posted by catur catriks at 7:15 PM | Permalink
aku ingin lho
kemarin kudengar kau berteriak, jakun di muka lehermu tertarik ke atas.
tapi kenapa kau memanggilku? bila kau tahu aku akan segera menjemput, kenapa harus berontak?
apa itu hendak memperjelas keinginanmu dan mencegah aku untuk tidak berbelok jalan?
tak usah kau sekhawatir itu. sudah lama aku merindukanmu, hanya saja waktu dan kesempatan masih terlihat jauh.
mungkin sebentar lagi aku bisa membeli komputer dan dengan ini aku akan menuju ke arahmu. bila perlu, aku akan berlari sekuat tenaga bisa kukeluarkan.
mungkin pada langkah awal aku akan terpeleset, badanku akan terlempar, tapi yakinlah, aku akan segera berdiri, mengejarmu dengan langkah yang lebih cepat dan lebih gesit karena aku tahu, aku pernah terjatuh.
aku mungkin akan menelan ludah, bila kau memanggilku lagi sementara aku belum juga beranjak dan merubah bayanganku. tapi mengertilah sayang, bahwa aku tidak mematung. lihat! bukankah aku bergerak?
yah, tapi aku juga sadar bahwa kau tahu beda gerak siput dan gerak paus. kau juga tahu bahwa waktu terus berlari seperti anak panah yang lepas dari busur. tapi memang, sekarang aku belum bisa berlari
tunggulah beberapa saat lagi
aku akan membeli komputer sayang!
dan, sekali lagi, aku akan berlari mengejarmu
bekal sudah menumpuk di kepala
tekad sudah tertampung dalam ... ah, di mana ya?
dan saudara-saudaraku yang mengalir bersama kehidupanku sudah seringkali memanjat doa
yah, aku akan datang
tunggulah
semoga tanganku kuat untuk menari
semoga otakku kuat untuk menampung
nasib baik ada di antara kita
yakinlah, bahwa aku juga kepengin