Thursday, February 16, 2006
posted by catur catriks at 1:20 PM | Permalink
cerita tiga

PELANGI DI BAWAH KAKIKU


Ini hari terakhir aku mengikuti ujian semester. Aku telah menyelesaikan semua soal mata pelajaran. Dari hari Senin sampai Sabtu ini, aku selalu berkonsentrasi penuh. Berkonsentrasi agar aku bisa mengerjakan sola ujian dengan baik. Dan betapa melelahkan kulalui hari-hari tersebut.
�Baiklah, karena kamu sudah selesai, Papa dan Mama akan mengajakmu untuk berlibur,� kata Papa menawarkan. Tentu aku sangat senang.
�Berlibur, asyik! Ke mana Pa?� tanyaku ingin tahu.
�Ke bukit Kalasan.�
�Kita berkemah, Pa?� aku masih penasaran.
�Ya, di atas bukit itu.�
Aku, tentu, sangat gembira mendengarnya.
Kami sekeluarga berkemas. Mama pergi ke minimarket terdekat untuk membeli bekal. Papa mempersiapkan peralatan kemah. Ada tenda, tikar, lampu badai, senter, tas, besar, alat masak, paravin, dan lain-lain. Sementara aku menyiapkan baju hangat, kamera, radio, dan sleeping bag. �Pasti akan sangat menyenangkan,� pikirku.
Bukit Kalasan adalah tempat berkemah yang indah. Udaranya sejuk dan pemandangan di sekitar bukit juga sangat mempesona. Tapi itu kata orang. Saya sendiri belum pernah ke sana.
Kata Papaku yang sudah sering ke sana sewaktu masih remaja dan belum menikah dengan Mamaku, bukit itu berada di atas sebuah danau yang cukup luas. Sementara di atas bukit tersebut, dengan memandang ke sebelah selatan, maka orang akan melihat hamparan laut biru yang mahaluas. Samudra Hindia, membentang di sepanjang pulau Jawa sebelah Selatan. Sementara di sebelah Timur dari bukit itu, terlihat dua buah gunung yang menjulang ke langit seperti pasangan kerucut.
Aku bisa membayangkan betapa bahagianya aku setibanya di bukit kalasan tersebut.
Aku, Mama, dan Papa akhirnya tiba di atas puncak bukit setelah hari menjelang petang. Papa langsung mendirikan tenda. Mama membantunya. Aku duduk-duduk saja sambil beristirahat karena kakiku terasa pegal. Pegal karena mendaki bukit yang cukup tinggi. Setelah selesai kami semua memasukkan barang-barang ke dalam tenda.
Aku berjalan-jalan di sekitar bukit Kalasan tersebut. Ternyata di sekeliling tendaku, sudah banyak orang yang datang dan mendirikan tenda-tenda mereka. Bahkan telah ada sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar. Ramai, mungkin karena hari ini hari menjelang liburan.
Aku mengambil gambar dengan kameraku, Matahari yang nyaris tenggelam seluruhnya. Sinarnya tidak lagi menyilaukan, tapi jingga kemerahan dengan awan putih menyelimuti.
Hari semakin gelap. Papa hendak menyalakan api unggun di depan tenda.
Tapi tiba-tiba �.
Angin basah datang dengan cepat. Menyusul hujan besar yang menyerang tubuh kami.
�Aduuh, kok hujan sih ...?� aku menggerutu.
Semua orang yang berada di luar berlari masuk ke dalam tenda masing-masing, termasuk aku, Papa, dan, Mamaku. Kami hanya bisa berlindung di dalam tenda dengan sinar lampu badai yang remang.
Hujan mengacaukan semuanya.
Tenyata hujan tak kunjung reda. Aku berpikir, liburanku tak seindah yang aku bayangkan sebelumnya. Sepanjang malam aku hanya tidur di dalam tenda karena lelah. Lelah dan kecewa.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Aku keluar dari tenda. Rupanya hujan telah lama reda, menyisakan tanah cadas yang basah. Di depan sebuah tenda, kulihat ada dua orang pemuda yang sedang menyeduh kopi.
Kurentangkan tanganku ke atas untuk melemaskan otot-ototku yang kaku. Sepertinya Matahari sebentar lagi akan muncul di timur sana. Suasana masih terasa cukup dingin.
�Hai, kemari! Di sini ada perapian, kamu bisa ikut menghangatkan badan!� salah satu pemuda yang tadi dilihatnya sedang membuat kopi bersama pemuda yang lain. Memang di sekitar kedua pemuda itu ada sebuah perapian yang sekarang sedang mereka kerubungi dengan sesekali menyeruput kopi yang mereka buat. Suara pemuda yang tadi memanggilnya terdengar cukup ramah.
�Ya, terima kasih,� jawabku. Tentu saja aku tak berani ke sana tanpa sepengetahuan Mama dan Papaku.
Di ufuk Timur, langit mulai menguning. Matahari pagi akan segera muncul. Kuambil kameraku dan kujepret gambar Matahari yang mengintip di balik gunung. Aku memotretnya beberapa kali. Aku juga memotret pemandangan lain.
Tak terasa Matahari pagi telah seluruhnya bersinar, walau sinarnya belum seterang biasanya. Tiba-tiba saja aku melihat dua pemuda tadi berdiri dan berlari memandang ke arah danau yang berada di bawah bukit. Mereka menunjuk-nunjuk sesuatu sambil bergumam. Karena penasaran, aku mendekat, memandang seperti yang dilakukan oleh dua pemuda itu, memandang ke bawah, ke arah danau.
�Tuhan Maha Besar �!!!� seruku.
Aku melihat ada pelangi di bawah sana, pelangi di atas danau! Betapa jelasnya, betapa dekat, betapa indah!
�Luar biasa!� seruku kembali.
Warna pelangi itu sangat nyata terlihat di mataku, ia begitu dekat, bahkan sepertinya aku bisa meraih pelangi itu dengan kedua tanganku. Aku takjub dengan kejadian alam di bukit ini.
Hal yang juga luar biasa adalah, pelangi itu ada di bawahku. Karena pelangi itu di atas danau sementara aku berada di atas bukit. Ya, benar, pelangi itu ada di bawahku.
Dengan segera aku mengabadikan gambar-gambar pelangi tersebut dalam kameraku.
Aku membangunkan Papa dan Mama. Mereka kaget dan tampak takjub begitu melihat ada pelangi di atas danau.
Aku meminta Papa untuk memfotoku dengan latar belakang langit dan pelangi itu. Jepret � jepret �.
Aku yakin, hasilnya akan tampak sangat indah. Dan aku juga yakin, di dalam foto, pelangi itu akan tampak di bawah kakiku.
Aku sadar, pagi ini adalah pagi yang terindah dalam hidupku.
Memang, Tuhan maha besar.
www.penulislepas.com