Saturday, October 27, 2007
posted by catur catriks at 10:04 AM | Permalink
serah terima?
ke depan, terhitung mulai senin 29 oktober 2007, mungkin aku akan menghadapi masa-masa sulit selama kurang lebih 8 bulan.
rentang waktu yang tidak pendek yang mgkn akan begitu melelahkan demi sebuah pencapaian.

Bismillah saja dgn menguatkan kepalan tangan
semua orang adalah pejuang, termasuk saya, walau pejuang yang tahu, bahwa ada yg perlu diikhlaskan

jikalah puncak itu yang diinginkan
betapa pecundangnya jika hanya mampu memandangnya
tanpa pernah mengusahakan

jikalah seorang punya sedikit kemampuan
betapa ruginya jika tidak digunakan


bukan untuk eksploitasi diri

tapi dalam beberapa hal
sesuatu kadang harus dipaksakan

dan beberapa hal menyangkut pos kelakuan
harus aku ubah


semoga kau tidak terhenti di tengah jalan, Catriks!
kalau harus menungging, lakukan saja,
tapi jgn sampai terkapar!

keep fight!!
 
Friday, October 26, 2007
posted by catur catriks at 5:36 PM | Permalink
tulisanku dibajak?
secara iseng saya membuka google dan mengetik namaku , caturcatriks, di kotak search.
lebih banyak hasil dari yang dulu pernah saya lakukan, saat itu langsung muncul 19 ikon dari bberapa web, termasuk blogku sendiri, di mana namaku tertera di sana.

keluaran itu banyak yang berasal dari blog teman n arsip email yang pernah saya kunjungi atau tulisan yang pernah aku kirim/aku tinggalkan di tagboard atau artikel yang aku kirim ke sebuah web.

sebagian besar aku membuka ulang dan aku mengingatnya

tapi ketika judul tulisanku muncul pada sebuah web, aku terkaget karena aku tak pernah mngenal web tersebut.
terlebih terkaget setelah mngetahui bahwa tulisan itu baru2 ini aku posting di sebuah milis dan aku simpan di blog.

tulisan itu ada di sini:
http://www.lintasberita.com/Lokal/Mengapa_Aku_tidak_Menangis/

dugaan yang tiba2 muncul adalah, artikelku diambil orng dan dipublikasikan tanpa izin.
tapi dugaan ini melemah setelah tahu bahwa alamat blogku juga tertulis di sana dan apabila tulisan itu aku klik, maka yang keluar adalah halaman blogku (karena di link) dengan tulisan yang dimaksud.

entahlah, aku kira ini bukan pembajakan
tapi aku kira cara ini kurang sopan karena aku tidak diberi tahu sebelumnya
tapi aku juga jadi merasa aneh, kenapa tulisan sjelek itu ada yg berminat?

hmmm ..
tullisanku yg lain juga dicomot orang di sini: http://eaindonesia.com/index.php?pilih=lihat&id=39
 
Thursday, October 25, 2007
posted by catur catriks at 4:52 PM | Permalink
malammalama
tadi, tengah malam, aku mnuliskan kata2 berikut:

"bangun malam ini, tibatiba ingin menengok ke belakang dan menerawang ke depan,
merasakan betapa misterinya kosmos khidupan ini, menjadi bagian yang begitu kecil
dalam perputarannya dan menjadi salah satu bagian yang begitu lemah dengan ketentuan2 yang harus dijalani.

begitu banyak jawaban di luar dugaan pada masa yang telah dilalui dan penuh tanda tanya
pada apa yang akan terjadi esok hari.
semenatara saat ini seperti ruang kosong. misteri.
tinggal seberapa kuat diri bisa menjemput, seberapa ridha saya menerima,
seberapa besar diri ini berharap.

besok matahari akan bersinar kembali, roda kehidupankupun harus kembali diputar
mungkin dengan rutinitas dan tumpukan pekerjaan ...

malam ini, hati ingin dalam kepasrahan seiring dengan hembusan nafasku

selamat malam
di kedinginan ini, banyak orang yang terbangun dan bermunajat

temanilah mereka ..."

dan kemudian tulisan itu sy kirim dalam sms panjang kepada 2 orang temanku.
yang satu tidak peduli, yg satu membalas, juga dengan sms yang cukup panjang.
pukul 03.55.44

"malam menyadarkaknku ...
malam menamparku ...
malam mengajakku berpikir, betapa naif dan tolol,
betapa butanya mata hati ini

betapa naifnya aku ...

kapan aku mampu dewasa?
kapan aku bisa memunguti hikmah yang berserakan?

aku terus terlelap, membiarkan mimpi2 palsu menjebakku
masihkah KAU maafkan aku?
masihkan aku mampu bersujud kepadaMu?

biarkan kau ambil hikmah itu
jangan biarkan aku terkungkung dalam kebencian palsu

Astaghfirulloh ..."

ya, kadang sensitivitas datang tak terduga, trapi ia sangat menyukai keheningan
 
Tuesday, October 23, 2007
posted by catur catriks at 7:51 AM | Permalink
apa saja lah

Pulang ke rumah, ada sedikit laporan untukmu halamanku:

1. Di keluarga, aku lebaran duluan, yaitu hari jumat smentara yang lain hari sabtu. Keputusanku paling dipengaruhi oleh keputusan dewan syariah pks pusat n advis dari kakak perempuanku yang sangat aku percaya di pekanbaru.

2. Menjelang lebaran, kakak keduaku dicukur plontos tapi ia mlebatkan jenggot yang sama sekali tidak keliatan rapi, malah mirip Pepi. Sekarang ia keliatan lbih cuek oleh sindiran dari anggota keluarga yang lain. Untuk bberpa hal, aku menilai ia orang yang kolot.

3. Berkumpul dengan keluarga besar di rumah yang cukup smpit membuat suasana terasa gerah dengan gaduhnya suara2 sepupu perempuan yang saling berebut bicara. 4 orang, tapi busyet!

4. Ritual rutin adalah kunjung/dikunjungi saudara n tetangga, mnjelaskan kembali garis2 kekerabatan.

5. Saudaraku yang lain yang datang dari jambi memakai cadar, demikian juga dengan anak prempuanya yang baru berusia 9 tahunan. Tntu saja aku tak dapat melihat wajah mereka, kecuali matanya. Bila matanya menyipit, kupastikan mereka sedang tersenyum atau tertawa.

6. Salah satu adik sepupuku yang cewek, kuketahui telah berganti pacar. Pacar yang dulu masih saudara jauh kami, pun dengan pacar yang sekarang, teritung masih saudara juga. Antara pacar yang satu dengan yang kedua juga masih saudaraan. Aku tak begitu suka dengan gayanya yang ini. Tapi ketidaksukaanku terkalahkan bila melihat keceriaannya. Mmh .. Semoga dia tidak mencintaiku bila yang kedua ini terputuskan kemudian.

7. Tak sengaja pada suatu kesempatan aku melihat anak yang pernah aku taksir. Di makin terliht cantik dan sedikit juga muncul uara kedewasaannya, mungkin karena dia telah menikah, walau langsung ditinggal suaminya belajar ke luar negeri. Sempat memandangnya lama karena dia tak melihatku. Ketika ia makin dekat,kutundukkan muka dengan berpura2 sedang mngerjakan sesuatu. Juga ketika aku melewati depan rumahnya kulihat ia sedang duduk2 di depan rumah dengan adik dan ibunya. Begitu ia melihatku, buru2 dia masuk ke rumah. Akhirnya hanya ibu dan adiknya yang mnyapaku. Mungkin karena aku dan dia ada rasa sungkan dengn cerita lalu, hmm ..

8. Ngumpul bersama teman2, akhirnya mendengar berita bahwa agustus kemarin terjadi perselisihan antar kampung. 5 anak dusunku menginap di sel selama seminggu. Satu di antaranya adalah teman akrab .. (hmm, smpai kapan U bisa mengendalikan emosimu, Listiyanto?) Menurut cerita juga kalian ditangkp dengan cara diculik oleh aparat karena tidak ada surat penangkapan. Penculik disogok oleh salah satu pihak yang bertikai. Orang2 tua bilang, polisi tidak pandang kbenaran tapi pandang siapa yang bayar. Pertikaian telah damai, tapi saya yakin, dendam ada pada anak2 dusun kami. Bila suatu saat terjadi sedikt gesekan, maka suatu peristiwa akan meletup. Teringat dulu, tetangga desa yang lain hrus kehilangan 3 pemudanya karena tawuran antar kampung. Hal yang sangat memiriskan.

9. H+3, reuni alumni Pecinta Alam SMABAPALA dalam acara halal bihalal. Diketahui (lagi) kakak angkatn telah menikah dengan adik angkatan. Pengulangan yang pernah terjadi dengan kedua teman satu angkatanku. Membuat aku merasa sedikit tergelitik. Dulu mereka berkali2 menyampaikan larangan menjalin hubungan dengan sesama anggota. Akhirnya mereka melanggar. Kuambil pelajaran, ketika kita bicara tentang banyak hal, maka kemungkinan bnyak juga tindakan yang tidak sesuai dengan apa yang pernah kita katakan. Kupahami dengan realita kocak, inilah yang dinamakan panggung perjalanan.

10. H+8, pergi ke sawah pinggir bendungan panglima besar jenderal sudirman (mrica), berfoto bersama ayah yang sedang membajak sawah. Si ponakan turun karena rasa tertariknya tidak tertahan, kemudia dia jatuh, bajunya penuh Lumpur. Di pinggir bendungan itu juga, aku menatap kembali peristiwa beberapa tahun lalu. Di tempat itulah satu sahabatku mati tenggelam karena perahu yang dinaikinya bocor dan dia tidak bisa berenang. Ia mati setelah subuh menjelang lebaran. Padahal waktu itu ada janji yang harus kami tuntaskan, mendaki gunung sumbing bersama. Janji ini terbuat setelah kami gagal dalam pendakian pertama. Waktu itu kita hanya mendaki berdua, hujan lebat datang dan kita tersesat jalan. Pada sebuah titik ketakutan kita berangkulan, dan aku merasakan sedikit getar tubuhmu, demikian juga mungkin denganmu, merasakan ketakutan di dalam diriku. Akhirnya kita putuskan untuk turun dengan susah payah. Hujan belum berhntielam karena perahu yang ditmpanginya bocor dan dia tidak bisa berenang. ia . Setlah sampai di perkampungan, kita pun berjanji untuk mengulang kembali di kesempatan lain. Tapi, ketenangan air bendungan yang sekarang aku lihat, telah menghentikan janji kita. Kufu Salimi, semoga kau damai di sana, Amin.

 
Monday, October 22, 2007
posted by catur catriks at 8:55 AM | Permalink
Selalu Saja Ada Pulang

Pada setiap kaki yang melangkah
Dan di pencapaian jarak
Ada tempat perberhentian yang mengingatkan
Dari mana kaki telah diberangkatkan

Di tempat itu kita akan tertidur dengan masa lalu, kini dan, bayangan masa depan yang jua akan bermuara pada tempat dari mana kaki meninggalkan jejak

Pulang di tahun ini
Sengaja kuhangatkan badan dengan cuaca jalan
Melaju dengan mobil terbuka, angin suka sekali dengan rambut dan wajahku
Hmmm, sekedar ingin merasakan getar waktu
Si sepanjang malam di sepanjang jarak
Antara rantau dan pulang

Kucapai rumah dan inilah rumah kami
Di mana waktu-waktu dipenuhi suara Ayah, Ibu, dan saudara yang menjengkal bintang bila malam, yang merasakan matahari dipergantiannya

Kucapai rumah dan inilah rumah kami
Tak ada yang istimewa untuk dituliskan
Selalu saja hanya kesederhanaan
Dari lahir hingga aku tumbuh
Tapi inilah yang membuatku istimewa
Kembali ditemukan dengan pendeknya angan-angan

Kucapai rumah dan inilah rumah kami
Hari ini aku pulang dan esok akan pergi
Hari ini pergi dan esok akan pulang
Akan kurindu pulang hingga aku harus berangkat
Karena setelah pergi orang akan pulang
Ngungunnya pergi akan terbayar dengan nikmatnya pulang
Saya pasti akan pulang, ke rumah ini atau bukan ke rumah ini

Tapi tiap manusia: slalu saja ada pulang

 
posted by catur catriks at 8:44 AM | Permalink
save as!

Sengaja kutuliskan ini, karena pada sebuah perputaran waktu, selalu ada gejolak yang akan menguatkan atau melemahkan tali persahabatan. Ke depan, bisa saja mereka-mereka yang ada dibawah ini sudah melupakan saya atau saya sudah melupakan mereka. Sekedar untuk mengikat satu irama, kutuliskan semuanya.

1. Iis: Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum; amin (u r the first one!) (sljtnya: untuk idem)

2. Alam: Ya wis, sing penting nyong dingapura mbok ana salah lupute. Salam!

3. P Sinang: Ass. Wr. Wb. “Selamat hr raya idul Fitri 1 syawal 1428 H. mohon maaf lahir batin. Semoga rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini diterima Alloh dan ridho-Nyasll tercurah kepda kita semua serta kit adapt dipertemukan kmbali dengan ramadhan yang akan datang. Amin. Salam

4. Dani: mohon delete eror2 fileku, shutdown prasangka n khilaf, restart langkah dengan bijaksana, met hari ry Idul fitri+save as amal sbaik2nya, mohon maaf lahir dan batin

5. Novi SK: Ramadhan pergi meninggalkan sjuta makna. Syawal menjlang menyikap fitri. Maaf atas segala khilaf, dusta dan prasangka di hati. Met idul fitri. .. (Idem)

6. Nursalam SK: Alloh, kubersujud di muka gerbangMu, runduk senista debu kaki, air mata meruah, sesali sajadah usia yang tebntang. Hatiku ya Rabbi, singggasana Qobil dan fir’aun yang tak kunjung abu dibakar waktu. Asaku gelisah. Akankah kujemput RamadhanMu kembali? (doa diujung Ramadhan, Nursalam AR)

7. Asma SK: Pengin bersikap baik malah nyakitin, pengin senyum keluarnya cemberut, mo ngebantu jadi ngomel2, bikin dosa tambah banyak. Untuk itu, Asma minta maaf. Met lbaran ya

8. Ambar (idem)

9. Isna: Takbir telah berkumandang mnyelipkan keharuan dalam tipa hlai maaf. (idem). Smg ukhuwah tetap terjalin indah dan tipa diri menjadi lebih baik.

10. Yuyun: salam fitri di hari yang fitri, haturkan maaf di ujung indah dan sambutlah tangan yang terulur ini memohon maaf utk segala khilaf. (idem) salamku untuk mneyapa hatiumu teman. Wahai pujangga, mudik tak?

11. Nani: (idem) mulai skrg n dst, a pkai no ini

12. Retno SK: sipsip, dah gua sms. Thanx udah diingetin. Yup, gua juga lebaran besok, so maaf lahir batin ya caturcatriks (ini nama aslikah?) have a wonderful lebaran!

13. Cucu: tak selamanya mata ini menatap ramah, hati mnilai jernih, mulut bicara santun, seiring pemohonan maaf yang tulus dari sgl salh dan khilaf, mohon maf lhir dan batin

14. Moka: Embun di atas jatuh k bumi, lksana hujan dosa yang berat. Mbun mohon diampunkan, untk khilaf mohon dimaafkan. ..(idem)

15. Rudi G Aswan: Denyut takbir mnjernihkan fikir. Gegap tahmid mngantar ramadhan pamit, derpa tasbih menyucikan hati. Ja’anallahu wa iyyakum. (idem) hidup baru dengan maafmu

16. Dian: idem

17. Shintionk SK: Kesedihan berpisah dengan ramadhan kan sellau ada di hati setipa hati mukmin. Dengan hati tulus sinta haturkan maf yang sbasr2nya. Semoga kit abs bertemu dengan ramadhan yag akan datang

18. Lia SK: cahaay cinta memenuhi jiwa, bening hati para perindu surga. Di bawah tatapan sang Cinta, kuhaturkan maaf sejuta rasa. Jbat erat yang menggugurkan osa. Selamat Idul Fitri *Lia*

19. Hariyono BP: Sebula telah berlalu, belu banyak amal bauk yang kami tunikan,namun harapan tetap terpanjatkan. Semoag segala dosa di masa lalu terampuni dan kembali fitri. ..(idem)

20. Syasya SK: idem

21. P Khusnul: seputih kapas sebening embun,muliakan diri dengan kesucian di hari nan fitri. (idem0

22. Tofik SK: idem

23. Dwi LPW PWI jateng: (idem)

24. Bothax.com (idem)

25. Kami kelurag besar PUSDIK BEKANG TNI AD, YON RAIDER 300, mngucapkan selamat idul fitri (idem) = ki, dirimukah ini?

26. hera prudential = idem

27. mas jay

28. wahyu priuk

29. pk asmawi

30. ma ipon

31. dina: (idem) datang ya dinikahan gw, tunggu kabar selanjtnya

32. Petruk: linambaran ati kang suci lan weninging panggalih sedaya tumindakk kang ora kepenak, keladukng lathi kang gawe benci patrap kng muntap gaew nratap, pangrasa kang ora kanyanagawe kuciwa sedaya gogrok rontok lebur luluh wonten ing dino kang suci. Mugi2 Alloh tansah mbimbing kita sedaya. Maaf lahir batin

33. wiwid SM jkt

34. pirngadi spv

35. fiyan SK

36. Saraz 008: (idem) .. maafin aku ya untk semua salah kaat dan tingkah lalku takbekenan. Triks, besok halalbihalal PA jam8.30 di sma. Dtg yu, ak penginketmu kamu ..Miss U

37. wahyu 00 (idem)

38. Sony: Tuhan mahatahu, tapi Ia menungu, YTuhan mahaadil tapi ia terlalu banyak memberi misteri. Se;amat fitri

39. pk arif lq (idem)

40. dst merupakan balasan dri smsku+off mssge di ym: sinta jelek, dixana, dindanov, farahjaps, nia SK, email:, sichabudin, hartati nurwijaya, aisyah, n tman2 di beberpa milis

 
Monday, October 08, 2007
posted by catur catriks at 2:55 PM | Permalink
Catriks, Selamat Ulang Tahun!

Salam kelahiran!
Salam kehadiran!

Sembilan Oktober, berkurang satu tahun usiamu kini, Catriks.

Hak nafasmu kembali diperpendek.

Bolehkah aku bertanya, berapa usiamu sekarang? 26, 27, atau 28 tahun? Ayolah katakan padaku! Kerut wajahmu telah banyak terlihat, kau tidak belia lagi.

Baiklah, bila kau ingin diam.

Tapi ada hal yang harus segera kau sadari. Kebugaran tubuhmu telah jauh menurun! Matamu telah minus, telingamu pun tak setajam dulu. Bila tak sengaja kau kehujanan di jalan, kau pun akan mudah terkena flu. Bila berlari, nafasmu cepat sekali tersengal-sengal.

Hmm, di usiamu kini, apa yang sudah kamu perbuat untuk memperbaiki diri? Bekerja dan mandiri?

Aktivitasmu kulihat monoton. Pagi tergagap terbangun dan bersiap menuju kantor. Bersapa dengan teman-temanmu dan berbicara apa-apa yang kau nilai perlu. Bermanfaat atau tidak, kau sendiri yang tahu. Pulang sore hari atau malam jika kau lembur. Setelah itu kau terkapar di kamarmu dengan capek badan menyelimuti. Istirahat dan terlelap dalam mimpi yang kadang datang kadang tidak. Besok bangun dan tergesa untuk kerja kembali.

Begitukah kehidupan yang akan kau bangun? Begitu sajakah hari-harimu dilalui? Bagaimana dengan rencanamu di masa depan? Di mana kedudukanmu sebagai anak manusia, apakah kau memikirkan mereka-mereka yang menengadahkan hati memerlukan bantuan? Apakah kau pernah merasa bermanfaat bagi orang lain? Bantuan apa yang pernah kau berikan, seberapa besar kau meringankan beban orang yang terhimpit? Oh, jangan-jangan kau tidak pernah. Mengajarkan ilmu agama sekali pun tidak, karena aku tahu, kau tidak tahu banyak tentang agama. Masa kecilmu jauh dari pembelajaran. Kini pun kau sedikit sadar bahwa langkahmu untuk mengejarnya selalu tersedat oleh rasa malas dan lelah yang sering hinggap.

Ingatlah, sebaik-baik diri adalah mereka yang besar manfaatnya bagi orang lain. Bukankah kau sering mendengar tentang pengakuan seseorang yang mengatakan bahwa ia akan merasa begitu bahagia ketika ia bisa berbagi? Tidakkah kau ingin melakukannya?

Sepertinya kau sibuk memikirkan diri sendiri.

Ah, kau menggeleng, tapi baiklah, katakan padaku apa yang pernah atau sedang kau lakukan untuk memperbaiki diri.

Diam? Ya, aku tahu, kau anak pemalu yang selalu segan untuk mengatakan.

Salam kehadiran, Catriks!

Setahun lewat ini tentu banyak kebodohan dan kekhilafan yang kau perbuat, baik kepada sesama teman atau kepada Tuhanmu. Aku tahu kualitas keimananmu. Walau pada dasarnya nuranimu menyadari apa yang baik dan buruk, tapi nafsumu untuk melakukan sesuatu yang menyimpang sering kau lakukan. Ya, kadang-kadang kau mengambil tindakan yang kau sendiri tahu itu hal yang salah. Tapi mengapa kau lakukan?

Membohongi nurani, jangan biasakan itu, Catriks!

Salam kelahiran, Temanku!

Di malam ini, seharusnya kau merenung, berintrospeksi, menilai, atau sekadar membayangkan tentang hal-hal menarik dalam hidup yang telah kau lalui untuk kemudian kau ulang, membayangkan hal-hal memalukan yang pernah kau lakukan dan bertekad untuk memperbaiki. Alasan apa yang menyebabkan kau harus hidup di dunia. Alasan apa yang menyebabkan kau tak pernah mengalami heroisme.

Walau aku tahu, kau berpotensi untuk menjadi anak yang bebal!

Oya, aku lupa, malam ini kau sibuk dengan pekerjaan rumahmu. Aku lihat sebenarnya kau ingin melakukan, tapi sebuah pekerjaan memburumu dengan batas waktu yang begitu mepet. Besok harus selesai. Bisakah?

Met ulang tahun, Catriks!

Aku bingung harus mengucapkan apa yang tepat untuk ini. Selamat berbahagia atau selamat panjang umur. Hanya saja kedua kata itu tak cocok untuk diucapkan. Mengapa? Karena aku melihat wajahmu tak seterang yang kuingin. Tapi, setidaknya bersyukurlah, Catriks! Tuhan telah memberimu waktu sekian tahun dengan gratis! Kau tak perlu menyewanya seperti kontrakanmu di situ yang harus kau bayar tiap bulan.

Sahabatku, beberapa kali pernah kau mengeluh tentang rejeki yang kau terima, tentang keinginanmu yang tak juga terlaksana, tentang waktumu untuk bisa bergandengan tangan menggenapkan separuh dien, atau tentang impianmu yang tak seberuntung orang2 yang kau lihat.

Jangan begitu kawan. Tumbuhkanlah rasa syukurmu yang terlalu jarang lewat di hatimu, suburkanlah rasa syukur itu menjadi pohon yang menjulang dan terlihat. Jangan terlalu banyak menuntut dan berambisi pada sesuatu yang belum pernah kau usahakan atau sesuatu yang memang di luar kemampuanmu. Kau sadar bukan? Keterbatasanmu begitu banyak.

Sembilan Oktober, beberapa tahun yang lalu ibu yang kau cintai melahirkanmu. Ucapkanlah terimakasih padanya, walau mungkin beliau saat ini tidak ingat bahwa kamu sebagai anaknya sedang berulang tahun. Ibumu mempunyai kesibukan sendiri, maka ucapkanlah terima kasih padanya, jika kau ingin. Tapi jangan paksakan diri, karena ini akan mengagetkan beliau. Bukankah sebelumnya dia tidak pernah mengucapkan kata itu? Ya, aku tahu, ucapan selamat ulang tahun seorang ibu hanya dipunyai oleh mereka yang tahu tentang isyarat kualitas komunikasi verbal. Sedang kau Catriks, kau berasal dari keluarga yang sederhana. Bahkan ternyata ibumu dapat mengingat hari kelahiranmu sebelum menuliskan akte kelahiran adalah sesuatu yang mengejutkan.

Biasanya orang tua seperti dalam keluargamu banyak yang lupa kapan anaknya lahir. Mereka tidak akrab kalender. Yang mereka ingat biasanya hari kelahiran Jawa: Senin Pahing, Selasa Wage, Jumat Kliwon dan sebagainya. Tapi lupakan hal ini. Sepertinya tidak penting.

Sembilan Oktober tahun ini, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1428 Hijriah, di hari dua puluh tujuh. Semoga berkah untuk hari esok yang akan kau lalui.

Tunggu, sepertinya kau ingin mengatakan sebuah harapan, katakanlah di hari yang baik ini, teman, katakanlah!

****

Oke, sebelumnya aku sampaikan terima kasih karena kau mengingat hari kelahiranku dan memberi sekedar ucapan. Tak banyak yang melakukan itu, dalam hal ini kau hanya memiliki sedikit teman.

Tentu, sebagai seorang anak manusia, aku punya pengharapan, keinginan, kekarepan, klangenan, dan apalah istilahnya. Tapi maaf, tak akan satu pun keinginanku yang akan kukatakan padamu. Apabila pernah aku mengatakan, itu berarti keinginan yang sepele, yang tak begitu aku pikirkan. Dengan kata lain, keinginanku yang serius akan aku simpan sebagai milik pribadi yang bersifat privacy. Kau tak berhak untuk mengetahui. Kau mengenalku, tapi kau tak mengerti isi di kedalamanku. Begitu juga dengan kehendakku. Apa pun yang akan aku lakukan adalah sebulat-bulat apa yang memang ingin aku lakukan. Kau tak perlu banyak bicara, tak perlu banyak menilai, apalagi menuntunku ke sebuah jalan.

Kesalahan manusia adalah lumrah, kelemahan manusia memang harus ada agar ia lebih tersadar diciptakan sebagai manusia yang tidak sempurna. Justru kesempurnaanku ada karena ketidaksempurnaanku.

Kuminta, biarlah semua menjadi rahasia waktuku. Bukankah semua orang menyimpan rahasia?

Biarlah aku melangkah dengan menurut bekal sebanyak yang aku miliki. Hanya saja aku ingin kau tahu, bekal itu selalu aku tambah, dengan cepat menumpuk atau pelan, sebutir demi sebutir.

Karena setiap manusia menginginkan kebahagiaan, baik di kehidupan yang pertama maupun di kehidupan berikutnya.

Begitu kawanku. Diamlah kau di sana, tak perlu kau bangkitkan melankolisme, ikuti saja alur cerita yang kubangun!

Terima kasih.

***

Kembali, di hari ini, kau tampakkan kebodohan dan kesombonganmu, Catriks!




 
Saturday, October 06, 2007
posted by catur catriks at 4:26 PM | Permalink
Mengapa Aku tidak Menangis?


Tadi, ketika malam menyisakan sepertiganya, seorang pemuda kurus mengikuti qiyamullail secara berjamaah di sebuah masjid pesantren, di lokasi perbukitan.

Waktu yang tidak biasa ia lalui.

Pemuda ini biasa melewati waktu malamnya dengan meringkuk di atas kasur, membenamkan tengkuknya dalam sebuah selimut, terlena dalam dingin dan beratnya mata.

Tapi tidak di beberapa malam terakhir ini. Dia I’tikaf.

Dan pengalaman tadi malam, kini membuatnya resah, menyadari ada sesuatu yang telah melesat dari dada kecilnya.

Pada saat sholat malam itu, sang imam membacakan ayat-ayat begitu panjang dengan mahroj dan tajwid yang sesuai. Mengalun seperti aliran air jernih menyegarkan dahaga. Suasana begitu menyentuh mengharukan, masuk sampai di kedalaman makna. Sebuah keagungan akan Maha Besarnya Alloh seakan turun menyelimuti jiwa-jiwa di dalam masjid.

Di saat yang sama, si pemuda tiba-tiba mendengar teman di satu shaf, menangis tersedu. Dua orang di belakang, nafasnya tersedak-sedak, dan beberapa di antaranya sesunggukan. Suasana miris.

Suara sang imam pun mulai serak, mulai berat dan sesekali terhenti memperbaiki tenggorakannya yang tercekat, seakan juga sedang mentadaburi apa yang dibacanya. Seiring, para makmum semakin banyak yang menangis.

Keagungan Alloh saat itu, mungkin sedang sangat mereka rasakan, hingga jiwa-jiwa mereka luruh.

Di rakaat-rakaat selanjutnya, sesunggukan jamaah smakin terdengar.

Puncaknya ada pada sujud terakhir. Sujud itu begitu panjang. Dan si pemuda kembali mendengar tangis sang imam. Tangis seperti anak kecil yang merasa begitu lemah. Mungkin ia merasa betapa indahnya sujud di sisa malam bersama orang-orang mukmin yang berserah diri, sujud di dinginnya malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Mungkin mereka merasakan betapa nikmatnya ....

Tapi tidak demikian dengan pemuda kurus yang berada di tengah suasana itu.

Ia memang merasa haru, tapi ia tidak menangis.

Dadanya memang ikut berdesir, tapi ia tidak meneteskan air mata.

Ia heran, ada apa dengan dirinya?

Apakah hatinya telah bebal, sehingga ia tidak bergetar ketika keagungan firman Alloh dialunkan?

Di sujud panjang itu, ia sedih, sedih karena dirinya tidak bisa menangis.

Di sujud panjang itu, ia gelisah karena tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh jamaah lain.

Saat sholat usai, bergegas ia keluar dari shaf menuju pinggiran teras masjid. Ia berdiri memandang ke depan yang hanya gelap. Samar terlihat di sekitarnya alam perbukitan. Angin tak berhembus. Si pemuda kurus merenung.

Dulu, menangis di sujud malam, pernah ia alami beberapa kali terutama jika didera masalah yang menghimpit. Masalah itu ia pasrahkan semua, ia adukan kepada Yang Maha Menakdirkan. Biasanya, ia akan mengeluarkan air mata berderai-derai.

Tapi kni, ia tidak pernah merasakan kenikmatan itu lagi, pun ketika orang lain justru begitu menikmatinya.

Suara-suara zikir terdengar dari dalam masjid. Pemuda kurus itu menengok ke dalam tapi kemudian kembali memandang keluar, melepas kopiah di kepala.

Hatinya berbisik: Telah menipiskah keimannamu, Catur?

Sambil menyandarkan badan di tiang teras masjid, wajahnya menunduk, membenamkan segala rasa seorang hamba yang tengah kekeringan

.

Dengan ujung telunjuk, ia mengusap mata pelan. Kemudian ia menurunkan jari itu. Dan tiba-tiba ia kaget. Di ujung jari, ia melihat ada air yang tebal menempel.

Air yang menyadarkan, bila dirinya ternyata sedang menangis – tapi entah karena alasan yang mana.