Friday, April 18, 2008
posted by catur catriks at 2:36 PM | Permalink
Cemas, Panik, dan Tips

Ada fenomena yang menarik. Hampir menyamai sebagian sifat manusia, kucing dan burung piaraan mempunyai respon yang cukup kuat terhadap keadaan yang menjumpainya.

Bila burung dihampiri, maka ia akan melompat-lompat girang. Apabila kita elus-elus, seekor kucing akan menggelosorkan badan dan terlihat sangat menikmati. Sedangkan apabila kita bersikap cuek, ia akan datang dan menggosok-gosokkan bulunya dengan manja di kaki kita. Burung dan kucing mungkin termasuk hewan yang suka diperhatikan sekaligus suka meminta perhatian. Bila kita datang sambil memainkan jari dan membunyikan siul, dijamin si burung akan genit dan berkicau riang. Bila diberi sedikit makanan, kucing akan sangat betah menemani tuannya.
Mereka mudah untuk dipengaruhi.

Sangat berbeda dengan sapi. Jenis hewan ini sangat cuek dan sama sekali tidak sensitif. Bahkan, sepertinya, gaya cuek bebekpun masih kalah cool dengan gaya sapi, hehe. Jangan harap sapi akan cukup bereaksi bila kita elus atau diberi siul. Paling banter ia akan melenguh, sok mahal.
Hewan ini tidak gampang untuk dirayu.

Begitupun, saya kira, dengan sebagian sifat manusia. Ada orang yang begitu sensitif terhadap satu keadaan dan cukup bebal untuk keadaan yang lain. Tapi setiap orang pasti mempunyai titik lemah di mana ia akan begitu gampang terpengaruh dan hanyut dalam sebuah situasi yang dihadapinya. Sebuah keadaan menjadi impuls yang akan mengalami proses penggabungan antara keadaan luar dan keadaan dalam, menimbulkan reaksi dan asosiasi-asosiasi yang akhirnya membentuk konsep keluaran yang dinamakan reaksi. (Duh, teori dari mana ini?). Dan bentuk reaksi pada setiap individu jelas berbeda. Hanya saja secara general, reaksi orang bisa ditebak.

Seperti yang semua orang pahami, keadaan yang menyenangkan akan membuat bibir tersenyum. Suasana yang mengharukan sering membuat mata berkaca-kaca. Situasi yang meresahkan akan membuat kita cemas, dan keadaan yang mengkhawatirkan akan membuat orang panik.

Senyum dan haru adalah suasana yang cukup menyenangkan. Tapi cemas dan panik merupakan mood yang s tidak nyaman dan, tentu saja tidak diharapkan.

Bila diartikan, sekedar untuk memudahkan dengan sebuah definisi (dari sebuah sumber), cemas diartikan sebagai bentuk kekhawatiran yang berlebih dari suatu rangsang atau peristiwa. Sedangkan panik adalah rasa cemas yang berlebih dan diikuti gangguan-ganguan fisik seperti berkeringat, denyut jantung meningkat, wajah memerah, dan sebagainya. Tapi yang jelas, saya ataupun orang lain, tak akan suka dengan kedua keadaan seperti itu.
Seperti halnya, dengan kejadian yang saya alami kemarin.

Mungkin ini terkait dengan salah satu sifatku yang cukup sensitif (bener gak ya aku punya sifat itu?). Tapi bukan berarti saya seperti burung atau kucing yang mudah terbawa situasi (apalagi mudah untuk dirayu – halah!). Sayangnya kesensitifan ini tidak dibarengi dengan kesigapan bertindak. Maka saya artikan saja sifat ini dengan sebuah kelemahan.

Kejadiannya begini (hmm, kayak tukang cerita aja!). Ada dua orang yang berselisih paham tentang sebuah pekerjaan. Tanda saling menyerang terlihat dalam komunikasi mereka. Kemudian salah satu dari mereka mengajak masuk ke ruang yang lebih tertutup dan memanggil tiga orang untuk dimintai pendapat. Salah satunya adalah saya. Belum sempat membuka dialog dengan kami, kedua peseteru itu sudah ramai sendiri dengan argumen mereka masing-masing. Satu pernyataan segera dibantah dengan penyataan lain. Tak ada waktu jeda. Yang ada hanya berebut dan pemaksaan pendapat. Suara keduanya semakin keras. Hingga akhirnya ada yang berteriak, “Diam!”
Tapi teriakan berefek sebaliknya.

Dari perasaan awal yang hanya cemas, tiba-tiba saja aku menjadi sangat panik. Maklum saja, yang berteriak itu adalah seorang kepala bagian dan yang menghadapinya adalah editor senior. Karena panik dan tak tahan dengan keadaan konflik, saya segera keluar ruangan. Padahal dua teman saya tenang-tenang saja menyaksikan pertengkataran itu. Saya keluar dengan dan mendatangi seseorang yang aku anggap cukup wibawa.

“Pak, tolong tengahi itu, Pak. Sepertinya sudah tak terkendali!” kata saya dengan debar-debar, takut kalau-kalau terjadi kekerasan. Si bapak tersebutpun sebenarnya sudah mendengar dan tahu karena suara pertengkaran itu keluar ke mana-mana. Dasar apes, si bapak dengan sangat tenang menjawab, “Biarin aja, klo gak gitu, ya, gak ramai.”

Benar saja. Mengapa aku harus begitu terusik dengan keadaan itu, padahal yang lain masih bisa tetap tenang? Aku menarik napas dan kembali ke meja kerja. Untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian, kuambil HP dan kubuka-buka isinya. Walaupun tidak ada sms yang baru, tapi tetap saja saya buka-buka sambil berusaha mengabaikan suara pertengkaran. Saya kira, di di saat itu, HP menjadi sesuatu yang cukup ampuh sebagai pengalih perhatian.

Btw, sebagai pelajaran, biar tidak seperti kucing atau burung yang begitu mudah dipengaruhi oleh suasana, berikut saya dapatkan sebuah tips mengatasi rasa cemas dan panik. Tapi bukan berarti kita harus seperti sapi yang kelewat cool, yang begitu tidak sensitifnya terhadap suasana. Karena manusia bukan sapi (ya tentu dong). Manusia mempunyai hati yang kepekaannya jauh lebih kompleks.


Tips mengatasi rasa cemas dan panik.

(dari Harian Kompas, Minggu, 2 April 2006)

1. Tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Lakukan beberapa kali sampai rasa cemas dan panik tersebut hilang dan kita bisa berpikir jernih kembali.

2. Berteriaklah dan menangislah bila memang diperlukan untuk melegakan perasaan. Tetapi sebaiknya lihat keadaan sekitar, jangan sampai mengganggu orang lain. (Apalagi bila suara kita sember. Bisa jadi malah akan menimbulkan kepanikan baru pada orang-orang yang mendengarnya).

3. Alihkan pikiran dan perhatian dari hal yang membuat pikiran cemas dan panik.

4. Banyak minum air putih untuk melegakan perasaan yang berdebar.

5. Belajar untuk melihat segala masalah dari sisi positifnya. (Klo yang ini keliatan bijak banget ya?)

6. Beruaha untuk tidak membesar-besarkan masalah. Dengan cara ini, kita bisa terbebas dari rasa terbebani.

7. Share our feeling. Ceritakan perasaanmu kepada orangtua atau sahabat. Jangan menyimpan sendiri rasa panik dan cemas. (Nah, untuk yang satu ini banyak benarnya. Kadang ada seseorang menelepon orang terdekatnya ketika ia panik. Hanya dengan mendengar suaranya, rasa panik dan cemasnya akan hilang dengan sendirinya, walau terkadang orang tersebut tidak memberikan solusi.)

8. Serahkan semua kepanikan dan kecemasan pada Tuhan. (Tentu, yang ini adalah resep yang paling ampuh)


Semoga saya dan siapa saja, tidak terlalu mudah untuk terbawa suasana.





 



1 Comments:


At 5:57 PM, Anonymous Anonymous

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://infogue.com/pengetahuan_umum/cemas_panik_dan_tips/