Friday, December 28, 2007
posted by catur catriks at 11:10 AM | Permalink
perjalanan

Lelaki masih melangkah menyusuri pinggiran kota. Sandal yang dipakainya semakin tipis dan kian terasa apabila menginjak kerikil. Malam telah cukup pekat. Dingin dengan bebas menembus badannya yang berkaos oblong dan bertopi. Tapi si Lelaki tak menghiraukan. Sesekali ia menggeser letak topi di kepalanya. Kendaraan hanya satu dua. Tapi tetap saja ada yang lewat. Truk, sepeda motor, atau mobil sedan.

Lelaki berusia tiga puluhan ini melewati muka-muka gang. Sebenarnya malam tak sepi. Di setiap muka gang, ia selalu berpapasan dengan manusia. Para wanita yang berpakaian ketat berdiri sambil bersidekap. Sesekali mereka melambaikan tangan pada kendaraan yang lewat di depan mereka. Melambai dengan isyarat mengharap dan ucapan: silakan istirahat dulu.

Si Lelaki kadang menyapa dan berlalu untuk terus berjalan. “Malam-malam begini, seharusnya mereka tidur di rumah,” bisik Lelaki.

Sebuah lampu jalan menyala redup pada tiang yang tinggi dan berkarat. Kaca lampunya telah berlumut. Di bawah pangkal tiang lampu, bersandar seorang wanita muda. Sambil berniat untuk beristirahat, ia hentikan langkahnya. Semerbak wangi menyebar. Sepertinya dari tubuh perempuan ini, Lelaki mengira.

“Sedang mencari?” kata si Perempuan pada Lelaki mendahului sapaan. Si Lelaki nampak heran karena ia merasa si perempuan mengetahui kalau dia memang sedang mencari.

“Ya, dan tak juga kudapatkan. Apa kau punya berita, ada pemborong proyek yang membutuhkan tenaga? Atau seorang pengelola bangunan yang sedang membutuhkan tukang pemelihara gedung? Aku ingin cepat-cepat bisa kerja.” Kata si Lelaki mengutarakan maksud. Mendengar ini, si Perempuan nampak kecewa, lalu diam. Beberapa saat kemudian matanya telah mengawasi jalan dan sesekali melambaikan tangan pada pengendara yang lewat.

Si Lelaki paham, perempuan di hadapannya tak akan memberikan jawaban seperti yang ia harap. Sama seperti orang-orang yang sudah ditemuinya semenjak tadi siang, sejak kemarin, dan kemarin lagi. Mereka menggeleng, menjawab dengan kata tidak tahu. Seperti juga malam ini, perempuan tersebut tak akan memberikan jawaban. Membuang muka ke arah jalan sudah merupakan tanda pengusiran yang begitu tegas.

“Apa yang kau tunggu dari para pengendara yang lewat itu? Malam begini, seharusnya kau ada di rumah,” kata si Lelaki bernada anjuran. Si perempuan menghela nafas,

“Jangan bicara aneh Bapak. Semua orang punya roda. Roda orang-orang berputar pada siang hari dan aku tak mendapatkan tempat. Tapi rodaku harus berputar. Malamlah waktuku untuk memutarnya agar aku tetap bisa bertahan hidup.”

Diam, ada sebuah jeda yang membuat di antara mereka kaku.

Si Lelaki heran mengapa orang di hadapannya bisa bicara seperti seorang bijak.

“Apa malam begini, rodamu bisa berputar lebih cepat?”

“Kalau tak punya uang, pergi saja!” kata si perempuan pada si Lelaki. Ya, dan dia pun bisa sadis.

Si Lelaki paham, si perempuan membutuhkan transaksi. “Hehh … memutarkan roda. Setiap wanita malam mempunyai alasanya masing-masing,” gumam si Lelaki sambil melangkah berlalu. Melangkah walau tanpa jelas ke mana tempat hendak dituju.

Malam semakin meninggi. Gelapnya semakin pekat. Langkahnya tak setegap tadi siang atau tadi sore. Punggung mencondong ke depan dan lututnya sesekali bergoyang saat dilangkahkan. Tenaganya telah jauh berkurang. Rasa lapar ia tahan dengan mengencangkan ikat pinggang.

Si Lelaki menemukan sebuah pertigaan dan pada satu sudut bertengger tiga becak berjejer berdekatan. Ia ingin beristirahat dengan duduk di kursi salah satu becak itu. Tapi setelah dekat, Lelaki tahu, di setiap kursi becak meringkuk tubuh-tubuh pemiliknya. Mereka meringkuk agar kursi yang sempit itu bisa menopang tubuh. Meringkuk untuk menahan hawa dingin yang menusuk seperti malam ini.

Meringkuk, yah, di manakah aku akan tidur? Apakah aku harus mneghabiskan malam ini dengan terus berjalan? Pertanyaan ini mengusiknya. Adalah rasa capek yang luar biasa dan lapar yang semakin menggerus perut, membuatnya sedikit bimbang. Ia sadar, ia mempunyai tenaga yang terbatas. Tapi ia tak ingin menjadi lelaki yang lemah. Sesuatu di dalam hatinya menyuruhnya untuk tetap bejalan.

Maka ia pun kembali mengayunkan kaki yang telah jauh melemah. Persendiannya terasa pegal.

Tak ia temukan lagi wanita-wanita yang berdiri di muka gang. Karena jalan yang ia lalui kini jalan yang sepi dan jalan yang lurus jauh dari pemukiman atau gedung-gedung tua. Nampaknya perjalanan yang akan ia lalui sekarang semakin panjang. “Berilah aku kekuatan,” bisiknya di kedalaman hati yang ditujukan untuk Tuhan. Sementara pikirannya melesat jauh dari tempat itu. Jauh ke tempat di mana orang-orang yang dicintainya berada. Orang yang selalu dekat di dada. Itulah yang menjadi alasan. Dengan niat untuk merekalah si Lelaki rela melakukan perjalanan ini.

Pikirnya melayang. Rasanya seperti baru tadi sore ia berpamitan dengan istri dan anak. Ciuman anaknya masih terasa di pungung tangan. Dan ia masih ingat tatap mata istri yang penuh harap. Harap yang begitu besar.

“Semoga Abang cepat dapat kerja.”

“Nanti bawa oleh-oleh ya, Yah. Boneka! Hehe,” kata anaknya.

Si istri segera menggamit tangan buah hati dan membopongnya.

“Ayo cium tangan Ayah,” perintah Istri.

Langit kelam, bahkan setitik terang bintang tak terlihat. Sekelam nasib si Lelaki kini. Sejalan malam yang meninggi.

Hampir di ujung malam, Lelaki sampai pada sebuah tempat cukup lapang dengan jalan yang bercabang-cabang. Seperti muka sebuah pasar. Di sepanjang pinggir ada lapak-lapak tempat menjual. Lapak-lapak yang hanya terbuat dari kayu-kayu dan atap dari tenda-tenda plastik.

Si Lelaki memandang menyapu. Mungkin di tempat inilah besok ia bisa mencari kerja lebih mudah.

Matanya menangkap sesuatu yang bergerak. Ia mendekat. Ternyata seorang ibu yang baru saja merapatkan kain jaritnya kepada tubuh kecil yang terbaring bersamanya. Ia sendiri berbaring hanya berbantal sebelah lengan. Si Ibu terbangun dan segera duduk ketika tahu ada lelaki yang mendekat.

“Apakah hampir siang? Rasanya baru sekejap aku terpejam,” tanya si Ibu kepada si Lelaki seolah dianggapnya orang yang sudah mengenal.

“Tidak tahu Ibu. Sepertinya sekarang aku sudah tak mengenal waktu,” jawab si Lelaki.

“Oh …,” singkat, si Ibu langsung tahu kalau orang di depannya bukan orang sekitar pasar atau yang sering datang ke pasar itu.

“Itu anak Ibu?” si Lelaki menunjuk pada sosok kecil yang meringkuk di samping si Ibu, di atas lapak-lapak kayu.

“Iya, satu-satunya. Baru tujuh tahun.”

“Mengapa Ibu tidur di sini?” tanya si Lelaki sambil berjongkok.

Si Ibu menatap si Lelaki, tapi kemudian ia berkata, “Setiap hari aku menunggu mobil yang membawa sayur, menjelang subuh. Untuk mendapatkan sayur aku harus berebut, tapi para tengkulak selalu lebih menguasai. Aku hanya kebagian sayur yang jelek-jelek. Aku membelinya untuk dijual kembali. Tidak seberapa. Jika tidak ditunggui, aku takkan kebagian. Semua akan diborong sama para tengkulak.”

Si lelaki manggut-manggut seakan mencoba mengerti, walau mungkin sebenarnya, tidak. Kemudian matanya tertuju pada tubuh mungil yang tebaring.

“Sepertinya anak Ibu kedinginan.”

“Tidak. Ia sudah terbiasa, seperti ibunya.”

“Oh ….”

“Sudah dari bayi,” lanjut si Ibu.

“Apa dia sekolah?”

Mata Ibu menerawang, “Ya,” desahnya kemudian tanpa tekanan.

“Syukurlah. Sekarang banyak sekolah negeri yang biayanya murah,” kata si Lelaki. “Sekolah di mana?

“Terminal,” si Ibu menelen ludah, “dan di pasar. Kadang aku takut. Jika ia besar nanti, ia akan menjadi anak yang bermata liar.”

Pandangan si Lelaki jatuh ke bawah. Ia tak tega lagi menatap wajah Ibu. Wajah yang mengguratkan penderitaan hidup. Wajah dengan mata yang mulai berkilat, basah dengan air.

Si Lelaki tak tega untuk menanyakan ke mana Ayahnya. Ia tak ingin membuka kesedihan si Ibu lebih jauh.

Dalam waktu yang sama, si Lelaki teringat istri dan anaknya yang ia tinggalkan di rumah. Kepalanya mendadak terasa bergoyang. Ada darah yang mengalir cepat menuju otak. Matanya berkunang-kunang. Ia berusaha untuk bangkit, tapi malah kemudian si Lelaki terjatuh. Terkapar pingsan tepat di depan si Ibu.

Deru suara truk terdengar mendekat. Si Ibu hafal, suara mobil itulah yang biasanya membawa sayur.

Bergegas ia bangkit dan berlari.
Tubuh si Lelaki yang terkapar di depannya, hampir saja terinjak.

NB: Teringat suatu malam melihat suami istri (?) yang dekil meringkuk di halaman sebuah masjid pasar.