Thursday, November 01, 2007
posted by catur catriks at 1:37 PM | Permalink
3 KATA SAKTI

Tiga kata sakti, woww apa itu? Mantra yang biasa diucapkan oleh para pendekar, pesulap dengan aba kadabra simsalabim-nya atau juru terawang nasib orang? Yuhuu, bukan itu, tapi tiga kata ajaib yang bisa membuat semua orang di dunia ini merasa bahagia dengan hati berseri-seri dalam hubungannya dengan individu lain di lingkungan kerja, dalam keluarga, dalam persahabatan, atau di manapun.

Dalam dunia komunikasi empatik, mungkin, tiga kata sakti ini seringkali dibahas, yang seharusnya bisa dimiliki dan diamalkan dalam hubungan antarpersonal. Karena tiga kata tersebut bisa membuat orang merasa lebih dihargai, kata yang bisa meluluhkan kemarahan, bisa menghilangkan rasa segan-menyegan, yang bisa membuat orang tersenyum dengan lebih lebar.
Kata yang bisa diartikan sebagai salah satu kecerdasan moral bagi para pengucapnya.
Kata apa itu?

1. Terima kasih

Karena kita hidup dengan manusia lain, keseharian kita slalu dipenuhi dengan kontak person. Hubungan yang intensif dan otomatis ini akan memasuki semua sisi. Dan dlm perjalanannya, di antara kita akan saling membutuhkan, saling membantu.
Untuk urusan bantu membantu, kata terima kasih wajib ada.

Jadi apabila kita mendapat tawaran atau mendapat bantuan dari orang lain, maka ucapkanlah kata terima kasih. Kata terima kasih dapat membuat orang lain senang dan merasa dihargai. Kalau orang lain senang, kita juga akan merasa senang bukan?

Kita sering mendengar orang-orang mengucapkan kata ini dalam beberapa kondisi. Tapi kata yang paling berkesan adalah kata yang diucapkan dengan sepenuh hati ketika kita merasa ada seseorang yang berjasa kepada kita.

Di dalam kelas, kita kebingungan karena kita lupa membawa pulpen. Si Udin tahu dan segera menawarkan satu pulpennya kepada kita untuk dipakai. Maka kita akan mengucapkan dengan senyum, “Oh, terima kasih Udin, kau sangat pengertian!” Ok, pasti Udin akan ikut tersenyum dan merasa bahwa bantuannya bermanfaat bagi kita.

Di dalam kantor, ada telepon yang masuk untuk kita, tapi kita sedang tidak di ruangan. Udin menerima telepon itu dan menyampaikan pesan yang ditingalkan kepada kita, “Hai, tadi ada telepon untukmu dari sang ibu. Dia berpesan, pulang nanti jangan lupa untuk membeli daging.”
Dan kita pun menjawab, “ Oya, terima kasih ya atas penyampaian pesannya!”

Kata itu ringan sekali bukan? Tapi percayalah bahwa kata tersebut mampu membuat apa yang telah dilakukan orang menjadi lebih berguna, membuat orang akan lebih dihargai, apalagi bila kata terima kasih disertai dengan sedikit pujian yang tulus. Orang yang menerima ucapan itu pasti akan merasa sedikit lebih ‘gemuk’.

2. Maaf
Semakin banyak hal yang kita lakukan akan semakin banyak juga manfaat yang bisa kita raih. Tapi di sisi lain, mungkin akan semakin banyak juga hal yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, kita sering melakukan kesalahan. Untuk menetralkan, kata maaf cukuplah ampuh.

Untuk sebuah masalah dengan orang lain yang menimbulkan sebuah konflik, terkadang kita cukup segan untuk mengakui kesalahan kita. Sisi egois manusia yang berkaitan dengan gengsi tak jarang ikut bermain. Kita merasa benar sendiri dan sungkan untuk mengakui kesalahan. Atau karena kita terlalu sakit karena jatuh disebabkan tingkah laku orang, kita menjadi pendendam dan tak mau memberikan kata maaf kepadanya (emh .. apa ini juga sering terjadi padaku?)

Baron (digunakan nama ini karena lebih pas diasumsikan sebagai nama anak pembuat masalah) berselisaih dengan teman kantornya karena pernah terlibat dalam sbuah perebutan. Pada akhirnya Baron kalah tapi di antara mereka tetap masih ada persaingan padahal persaingan yang sebenarnya mereka sadari sebagai ajang yang sudah selesai. Mereka tidak pernah saling menyapa dan saling menghindar bila bertemu. Ada segan-menyegan. Ketika salah satu memutuskan untuk memulai membuka komunikasi, ia awali dengan kata “Maaf” dan mencairlah suasana yang dulu kaku.

Pada contoh lain, Baron terlambat datang pada sebuah pertemuan padahal teman-teman membutuhkan kedatangannya tepat waktu. Ketika ia datang, sapaan yang pertama kali ia ucapkan adalah permintan maaf dengan tulus. Dan wajah bersungut2 pun tidak ada di sana, tapi senyum pengertian untuk menyambut keterlambatan Baron.

Apakah berat meminta atau memberi maaf?
Apakah kita senang tetap menyimpan kedongkolan hati padahal apa yang menyebabkannya ternyata sudah selesai dan pergi?
Padahal dengan maaf, kebekuan biasanya akan lebih mencair.


3. Tolong

“Kak, tolong dong ambilkan buku di atas rak itu! Saya tidak sampai!” kata seorang pengunjung perpustakaan kepada pengunjung lain yang badannya lebih tinggi.

Kata tolong seharusnya kita ucapkan ketika kita membutuhkan bantuan orang lain. Karena dengan kata ini keinginan kita akan diartikan sebagai permintaan bantuan dan bukan sebagai perintah atau suruhan. Selain itu, dengan kata tolong, kalimat kita akan terasa lebih sopan dan tidak menyakiti orang lain.

Kata tolong seharusnya tidak diucapkan dalam kondisi-kondisi tertentu, tapi di setiap keadaan yang melibatkan peran orang lain. Termasuk di dalamnya ketika kita meminta tolong kepada adik, anak, atau bawahan kita. Sekecil apapun peran yang akan mereka lakukan, dengan kata tolong mereka pasti akan merasa lebih dihargai.

Btw, alangkah indahnya jika kita sudah terbiasa dalam mengucapkan kata-kata itu. Di dalam keluarga, ketika adik kita membuatkan kopi, kita ucapkan terima kasih, ketika tanpa sengaja kita menjatuhkan benda milik teman dekat kita, maaf langsung kita ucapkan, dan lain2.

Lebih jauh, dengan 3 kata sakti ini, orang-orang yang sudah terbiasa memakainya dengan tulus pasti akan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan.

Ayo, kata ini tidak berbentuk dan tidak bersyarat, jika memang sakti, mengapa kita tidak memulainya dari sekarang?

Thanx ya telah membaca tulisan ini.
Maaf ya karena susunan dan penyampainya kurang menarik
N, bisakah saya minta tolong?
Tolong
bantu diri kita sehinga terbiasa untuk mengucapkan 3 kata ajaib itu.
Bersemangat!!!