Wednesday, August 09, 2006
posted by catur catriks at 5:55 PM | Permalink
Mengapa Perang

Aku tak tahu sayang, mengapa banyak orang mengacungkan belati pada keluarga sendiri.

Aku juga tak mengerti, mengapa sebuah bangsa tega meluncurkan roket-roketnya ke bangsa tetangga.

Tidakkah hati para pemegang keputusan tergetar, ketika melihat anak2 menahan luka dan menahan nyawa?

Tidakkah hati mereka teergetar melihat para ibu yang meratap karena tulang punggung keluarga dan buah hati mereka meninggal?

Bagaimana bila para ibu itu, salah satunya adalah yang melahirkan mereka?

Apa yang dipikirkan seorang pemimpin ketika ia mengomandokan serdadu-serdadunya membunuh?

Pembuktiankah?

Kekuasaankah?

Sampai hari ini, korban di tanah Libanon mencapai ribuan: orang tua, wanita, maaupun anak2 yang bermata ceria.

Dan israel dengan supremasi persenjataannya masih terus membombardir wilayah padat penduduk sipil.

Sebuah bangsa laknat ingin menunjukkan keperkasaannya dengan korban kemanusiaan sebagai taruhan.

Apakah kau tahu, sayang, mengapa itu harus terjadi?

Dan mengapa juga sebuah kebiadaban harus ada pendukung?

Dan dukungan itu jauh lebih kuat dari bangsa mana pun?

Sayang, seekor rusa mungkin akan gemetar bila berhadapan dengan jongos macan. sedangkan macan itu ditemani oleh seekor singa. Rusa tahu, ia tak mungkin berlari,ia harus melawan. Dan untuk ini, rusa lebih tahu, ia akan menjadi santapan.

Seekor gajah dari tanah minyak pernah datang pada kerajaan singa untuk meminta perseteruan rusa dan macan dihentikan.

Singa pun menghardik pada gajah: Diam,atau kau akan terjungkal dari kursimu!

Sayang, pernahkah kau berkeinginan untuk bisa turun membantu para korban di tengah sebuah peristiwa?

Di mana kau harus menggotong mereka, mengobati, menahan suara yang mengerang, membalut daging yang sobek atau terbakar, mengambil mayat yang tak utuh dari runtuhan gedung?

Sementara nyawamu sendiri terancam oleh moncong tank yang siap muntahkan misil penghancur?

Kemarin rombongan pengantar mayat di Libanon terpaksa kocar-kacir ketika sedang beriringan mengantar jenazah. Pesawat israel menjatuhkan bom. Mereka berlarian.

Pada akhirnya mereka bisa menduga, jumlah mayat yang mereka antar akan bertambah. Orang yang sebelumnya berduka mengantar mayat, kini menjadi mayat yang juga akan diantar ke kubur.

Maut di sana sedekat denyut nadi.

Sayang, bisa bayangkan keadaan itu?

Mungkin begitu mencekam. Ketika nyawa hanya menunggu waktu?

Ketika anak-anak yang dicintai akan mati dengaan mengenaskan?

Memang, sayang, kita pernah mendengar para ibu yang berteriak:

Pergilah berjihad, anakku!

Jika kau mati, rahim ibumu akan melahirkan lagi anak-anak pemberani sepertimu!

Pergilah berjihad, anakku!

Mungkin itu salah satu jalan keluar ketika keputusasaan dianggap tidak ada lagi.

Ketegaran mutlak dipertahankan bila tidak ingin mati tanpa manfaat.

Sayang, aku mencoba membayangkan, betapa indahnya sebuah perdamaian.

Manusia saling bertemu, mengangguk dengan rukun.

Ketika cinta yang dimiliki adalah sebenar-benar tulus.

Bersatu untuk menciptakan keindahan.

Marilah sayang, mulailah menciptakan suasana damai dalam diri dan keluarga, dalam pergaulan.

Jangan sampai ada orang yang takut dan merasa terganggu dengan kehadiran kita.

Sayang, mulailah dari yang paling mudah.

Hilangkan ego dan setan yang bersemayam.

Damaikan hatimu, damaikan hatiku, damaikan di sekeliling

Sehingga ada sejuk di mana pun kita membawa diri

Untuk para korban di Timur Tengah, semoga Alloh menerangkan dan membahagiakan kalian di alam baru, Saudaraku.

Semoga segera Alloh menciptakan kedamaian di negeri sana.

Amin.