Monday, October 02, 2006
posted by catur catriks at 8:09 AM | Permalink
Sumpah Seorang yang tak Pernah Menangis
Sedikit kisah terkait G 30 S/PKI

Penangkapan terhadap anggota atau yang dituduh sebagai anggota PKI terus berlangsung hingga ke pelosok desa. Pembantaian terhadap mereka pun terus berlanjut. Bersalah atau tidak adalah harga yang sama. Mereka yang tertuduh harus membayarnya dengan kematian. Berapa puluh ribu yang mati? Entahlah. Sebenarnya negara kita dari dahulu adalah negara dengan pelanggaran HAM terberat. Tapi aku tidak akan bicara soal ini, tipis pengetahuanku karena sejarah yang sedikit menipu. Aku hanya tahu bahwa aku mempunyai saudara-saudara yang menjadi korban. Kalau tidak mati, mereka menderita di sepanjang sisa hidupnya.

Baiklah, aku akan menceritakan sepenggal kisah yang kecil, yang tidak akan dicatat oleh siapa pun, apalagi sebagai sebuah sejarah.

Tahun 67 awal, sekitar itu, Marman tumbuh menjadi remaja desa dengan hari-hari penuh ancaman. Semenjak kakak dan saudara-saudaranya ditangkap dan di bawa entah ke mana, ia harus menjalani hidup di bawah sebuah pengawasan tombak pemuda-pemuda desa yang mengatasnamakan Pembela Negara.

Marman, walau usianya baru 15 tahun, dituduh sebagai antek. Tuduhan ini didasarkan pada pernah hadirnya Marman dan kakak pertamanya pada sebuah perkumpulan PKI yang mengundangnya. Dan mereka hanya datang sekali, sebelum peristiwa besar itu kemudian terjadi.

Padahal ia belum mengerti apa-apa. Kesehariannya sebelum peristiwa besar itu, hanyalah berkutat di sawah dan menggembala kerbau milik ayahnya.

Suatu hari, ketika ia sedang menggembala, Marman merenung duduk di sebuah pematang. Ia berpikir atau entah apa, tentang kakak pertamanya yang diciduk oleh tentara dan dikabarkan akan dibunuh.

Pada saat menekur, Darjo, sebut saja demikian, yang sebenarnya adalah teman bermainnya, melihat dan curiga. Darjo lah yang selama itu bertugas untuk membuntutinya.

Dengan menggenggam tombak, Darjo mendekat dan membentak. Tombaknya diacungkan dekat, dekat sekali dengan mata Marman.

Tentu saja remaja itu kaget. Lebih kaget ketika ia tahu bahwa yang tega mengacungkan tombak itu adalah sahabatnya.

Mikirna apa ko? Arep mlayu apa? Tok pateni sisan, ngko! PKI!

(Mikirin apa kamu? Mau lari apa? Aku bunuh sekalian ntar!! PKI!)

Sontak, dada Marman bergejolak.

Tapi apa daya, Darjo membawa tombak, badannya pun jauh lebih besar. Marman menahan ancaman.

Beberapa hari segera berganti. Ada kabar dari desa, Marman juga akan segera diciduk. Darjo lah yang mengatakannya dengan sumbar.

Malamnya, rumah keluarga Marman ditunggui oleh Darjo, lengkap dengan golok terselip di pinggang dan tombak di tangan.

Mengetahui hal ini, Marman sudah tak tahan. Jiwanya berontak. Ia pun mengambil golok. Tapi pada saat mau keluar, ibunya menahannya dengan rengekan. Kalau Marman sampai ribut dengan Darjo, maka seisi kampung akan benar-benar menuduh bahwa keluarganya adalah keluarga PKI. Walau mereka sebenarnya tahu, tidak.

Marman meletakkan golok pada tempat semula. Ia tidak kuat melihat mata Ibu dan tidak ingin menyusul kakaknya yang sudah ditangkap dan dibawa oleh tentara.

Tapi beberapa jam kemudian ia keluar juga, bukan untuk melawan Darjo, rasa mulas dalam perutnya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia ingin buang air besar di saluran air dekat sawah beberapa puluh meter dari rumah.

Arep meng ndi ko?!

(mau ke mana kau?!)

ngising. (buang air besar)

Darjo tidak percaya. Ia mengikuti Marman sampai ke saluran air dan menunggui Marman membuang hajatnya.

Saat itulah rasa di dada Marman tak tertahan. Tenggorokkannya tersedak menahan sikap keterlaluan Darjo. Sampai sebegitunya Darjo, sahabatnya, mengawasi bagai ada durjana yang hina yang pantas untuk segara dibunuh.

Saat itulah sumpahnya jatuh.

Sumpah seorang anak remaja yang dilakukan selesai buang air besar.

Oalah, Darjo, Darjo! Ko ngerti uripku nang ndi, sedina-dina ngapa baen. Dhewek dolan bareng, deneng tega temen ko karo aku? Ya, rungokna Darjo, sapa ndingin sing arep mati. Ko apa aku. Ning aku sumpah, nek ko ndisit sing mati, tok gotong mayitmu tekan kubur!

(Oalah Darjo, Darjo! Kamu tahu hidupku di mana, sehari-hari melakukan apa. Kita bermain bersama. Kenapa kau tega sekali sama aku? Ya, dengarkan Darjo, siapa dulu yang akan mati. Kau atau aku. Tapi aku bersumpah, jika kau dulu yang mati, aku akan menggotong mayatmu sampai ke kubur!)

Mungkin kata-kata itu tidak sama persis, tapi itulah pada intinya.

Waktu tak berhenti bagi mereka. Pada akhirnya Marman tidak ikut ditangkap. Keadaan kembali tenang, menyisakan pedih di hati keluarga Marman. Tapi mereka tetap menjalani hidup dengan anggota keluarga yang hilang satu, (kakak Marman yang ditangkap), dengan sikap dari masyarakat yang menganggap mereka sebagai golongan merah.

Beberapa belas bulan kemudian wabah malaria datang. Tak sedikit orang yang mati.

Darjo ikut terserang penyakit ini. Ia dibawa oleh beberapa temannya ke rumah sakit kabupaten yang jauh. Kendaraan pada waktu itu belumlah ada di desanya. Ia digotong oleh teman-temannya ke sana. Namun setelah sampai, beberapa menit kemudian, Darjo meninggal.

Teman-temannya bukanlah orang-orang yang setia. Mereka sudah terlalu capek membawa Darjo ke rumah sakit, sehingga setelah Darjo meninggal, mereka pulang tanpa membawa mayat Darjo. Mereka hanya melaporkan kepada keluarganya.

Kayu terbakar api.

Marman mendengar berita ini.

Bergegas ia berganti baju dan berlari menuju rumah sakit kabupaten. Ia berlari secepat kaki bisa diayunkan. Padahal jarak antara desa dan rumah sakit memakan waktu seperempat hari atau sekitar 8 jam. Tapi ia tidak memikirkan apa-apa. Ia terus berlari. Sumpahnya terngiang di kepala memanaskan darah.

Sampai di sana, ia sempat ditahan oleh pihak rumah sakit untuk tidak boleh membawa mayat Darjo. Tapi Marman bersikeras dan membuat keributan dengan memaksa dan mengatakan bahwa Darjo adalah saudaranya. Ia harus membawanya pulang.

Dengan sekuat tekad, Marman mengangkat mayat Darjo ke punggungnya. Seperti seorang ayah yang menggendong anak kesayangan yang mati dalam pelukan.

Ya, Marman menggendong mayat Darjo pulang, sendiri.

Entah apa yang ada dalam pikirannya, karena saat di tengah jalan, rombongan orang-orang desa telah menyusulnya dan Marman tetap tidak mau menurunkan mayat Darjo dari pundaknya.

Sepanjang perjalanan, Marman tidak menurunkan mayat Darjo dari pundak, sekali pun.

Orang-orang heran, tenaga apakah yang dipunyai oleh pemuda yang bernama Marman itu. Untuk berjalan saja tanpa membawa apa-apa, jarak desa dan rumah sakit akan membutuhkan istirahat beberapa kali. Tapi tidak bagi Marman dengan membawa mayat yang badannya lebih besar darinya.

Mungkin itulah yang dinamakan tekad.

Ada seorang yang meminta untuk mengganti menggotong, tapi Marman malah membentak: Ben! (biar!)

Aneh, karena orang-orang pada waktu itu merasa takut melihat muka Marman. Kisah antara Marman dan Darjo telah mereka ketahui.

Keringat membanjir. Nafas memburu. Marman tetap berjalan dengan langkah tegap.

Orang-orang mengiringinya dari belakang.

Menjelang Isya, mayat sampai di rumah orang tuanya. Isak tangis terdengar di mana-mana. Marman meletakkan mayat Darjo di atas meja yang telah disiapkan.

Pada saat ibu Darjo memeluk mayat anaknya, Marman jatuh pingsan. Ia terlalu lelah dan kehilangan tenaga.

Setelah jauh waktu Isya berlalu, mayat Darjo siap dimakamkan.

Marman yang telah siuman, mengambil bambu penggotong keranda di bagian depan. Dengan empat orang, ia menggotong keranda itu, mengantarkan mayat Darjo ke kubur hingga pemakaman usai dan doa dipanjatkan.

Selesai pemakaman, dengan langkah gontai, Marman pergi ke saluran air dekat sawah beberapa puluh meter dari rumahnya. Di tempat itulah ia pernah mengucapkan sumpah.

Ia terduduk. Pundaknya berguncang-guncang sepanjang malam. Tapi setitik air mata pun tak pernah menetes.

Sumpahnya terlaksana sudah.

Itulah sedikit kisahmu yang kau rahasiakan dan sempat bocor kepada anakmu. Mungkin kisahmu banyak yang disimpan dan jauh lebih perih, karena kau selalu terdiam bila ada yang menanyakan. Diam, ya, itulah bahasamu. Tapi setidaknya aku tahu sedikit, kini. Dan aku bangga telah dapat menuliskannya.

Kini kau telah tua. Tapi hidupmu tak lepas dari sebuah keprihatinan. Setelah kau berkeluarga dan mempunyai anak, kau menyekolahkannya sampai perguruan tinggi, walau kau hanya seorang buruh tani. Kau menyekolahkan anak perempuan pertamamu, walau masyarakat mengecap, anakmu tidak akan jadi apa-apa karena ia keturunan dari golongan merah. Tapi semua orang tahu tekadmu, walau mereka tak tahu seberapa besar tekad itu tergenggam dalam kepalan tanganmu.

Orang memandangmu sebagai pribadi yang bodoh dan miskin, yang sering dipencundangi oleh orang lain, tapi kau telah berhasil mengantar anak-anakmu menjadi sarjana. Kau lebih mulia dari ayah mana pun, karena perjuanganmu begitu besar.

Di bulan September ini, ketika kenangan itu kembali muncul, jika aku boleh berharap, maafkanlah Darjo, maafkan juga orang-orang yang telah menangkap kakakmu yang dituduh PKI, dan telah meninggal. Maafkanlah, walau kejadian itu tak akan pernah hilang dalam ingatan hidupmu.

Cukup simpanlah itu semua sebagai sepenggal kisah.

Aku bangga padamu.

Aku bangga bisa menulis ini.

Aku bangga dengan tekadmu.

Dan aku jauh lebih bangga, karena darahmu menitis dalam tubuhku, Ayah.

Semoga Alloh selalu menyayangimu, melebihi kau menyayangiku dikala aku kecil.

Barokallohu. Amin