Friday, May 18, 2007
posted by catur catriks at 4:00 PM | Permalink
Sinopsis
Petualangan di Bukit Rogo Jombangan

Cerita (novel) ini berlangsung di sekitar bukit dan Gunung Rogo Jombangan, Pekalongan Jawa Tengah. Ketika itu ada sekelompok anak sekolah yang mengadakan perkemahan di sekitar tempat tersebut.

Pada malam pertama, Annisa, tokoh utama, bermimpi bertemu dengan anak hutan (Kelasuraso) yang berwajah dan bertubuh aneh. Karena anak manusia itu marah dan hendak memukul, Nisa takut dan akhirnya bangun dengan terkaget.

Ketika ia membuka mata, ada seekor kupu-kupu besar mengepak-ngepakkan sayap di atas muka. Kupu-kupu tersebut pergi setelah tahu Nisa membuka mata. Karena penasaran, Nisa mengejar kupu-kupu tersebut sampai ke dalam hutan, sendirian.

Kedua sahabatnya, Anggun dan Taka menyusul. Mereka bertiga mengikuti kupu-kupu secara bersama-sama. Mereka mengikuti karena kupu-kupu itu seperti mengajaknya untuk menunjukkan sesuatu.

Maka dimulailah perjalanan mereka masuk ke dalam hutan. Banyak rintangan yang dihadapi, sekaligus keindahan isi hutan yang mereka temukan.

Di pinggir lembah ketiga anak itu kehilangan jejak kupu-kupu. Tapi di tempat itulah mereka bertemu dengan makhluk aneh (Kelasuraso) yang penah Nisa lihat dalam mimpinya. Karena kaget, Anggun dan Taka langsung pingsan di tempat.

Pada kisah selanjutnya diketahui bahwa kupu-kupu yang mereka ikuti adalah teman dari Kelasuraso dan bahwa mereka sengaja dibawa ke tempat tersebut untuk diminta batuannya membuka lempeng batu besar, di mana di bawah batu tersebut terkubur jasad ayah Kelasuraso.

Dengan berbagai konflik antara ketiga anak tersebut (Annisa, Anggun, dan Taka), tentang rasa takut terhadap tulang belulang manusia, pesimis akan kemampuan tenaga mereka yang terbatas, kekhawatiran mereka karena pergi dari rombongan tanpa pamit, dan lain-lain, akhirnya mereka menyanggupi untuk menolong membuka lempeng batu besar.

Ketiga tokoh ini akhirnya berhasil membuka lempeng batu dengan cara menggunakan sistem pengungkit (sisi nilai pengetahuan). Tapi mereka tidak habis pikir karena Kelasuraso akhirnya membakar tulang-tulang ayahnya sebagai penyempurnaan arwah. Abunya kemudian dilarung dengan cara disebar di puncak gunung Rogo Jombangan, terbawa angin yang bertiup menjauh.

Cerita diwarnai dengan konflik yang menarik. Antara lain adanya perselisihan antara ketiga tokoh cerita (Annisa, Anggun, dan Taka) dengan Dadang, anak yang selalu bikin masalah, hingga mereka bergulat sengit. Selain itu, kekhawatiran dan pencarian para pembina yang kehilangan ketiga anak asuhnya karena mereka pergi tanpa meminta izin.

Cerita juga mengandung nilai-nilai ke-Islaman, tentang penyangkalan mereka akan hantu, mensyukuri nikmat, doa, sholat, pemeliharaan aurat anak perempuan, penguburan mayat, dan lain-lain.

Cerita ini, tentu, sangat menarik dan berguna untuk dibaca adik atau anak-anak kita.

Catur Catriks
HP 0813254xxxxx
catriks@yahoo.co.id

http://caturcatriks.blogspot.com